Pepatah mengatakan, “Gantunglah cita-citamu setinggi langit.” Bila mengingat kalimat bijak tersebut, proses melahirkan naskah cerita rakyat Korea ini  menjadi buku memang bagaikan mengejar bintang di angkasa saja.

Saat ditawarkan ke Gradien, tepatnya melalui Mas Ang Tek Khun, naskah ini sudah berusia tiga tahun dan beberapa kali dijemput pulang dari penerbit lain. Setelah berdiskusi mengikuti genre yang sesuai dan buku yang sudah terbit dalam Seri 101 ini, saya memperoleh pengarahan untuk menambah isi. Semula cerita yang terhimpun baru sekitar 40-an, itu pun harus dibongkar ulang karena tidak semuanya mengandung hikmat, alias tergolong dongeng biasa saja. Penggodokan memakan waktu hampir setahun, di luar proses antre di meja editor.

Kira-kira dua bulan lalu, editor mengirimkan hasil suntingan melalui email secara bertahap untuk saya periksa. Beribu terima kasih saya haturkan kepada Mas Agus, yang bersedia mengambil alih penyerasian naskah guna keseragaman dan konsistensi gaya bahasa, sebab saya sedang terbenam dalam pekerjaan yang mendesak. Terima kasih juga kepada Mbak Aning, yang bersedia menunggu hasil koreksi tersebut walaupun jelas masih belum ‘sempurna’. Tidak lupa kepada Ayu dan Sinta, yang ikut jungkir balik mencari arti beberapa kata saat saya mengambil referensi buku dongeng anak berbahasa Jawa. Andhika ‘Abah’ Pramajaya (apa kabarmu?), Ahmad Zeni, dan para sahabat serta saudara-saudara yang saya tulari serta menulari saya per-Korea-an.

Di samping isi naskah, tulisan yang awalnya berjudul Fairy Tales of Korea (tak terhitung berapa kali direvisi, sesuai kebutuhan dan setiap kali dibawa ke pintu lain) ini pun mengalami perubahan desain sampul sebelum akhirnya menelurkan yang Anda lihat di note ini. Sebagaimana laiknya dongeng, keseratus satu cerita didominasi aroma tradisional, bermuatan fantasi semisal hantu-hantu, horor, dan kisah kerajaan, juga elemen budaya yang cukup dekat dengan tradisi Jepang.

Kalau bukan karena buku ini, saya mungkin tidak berkenalan dengan berbagai cerita rakyat yang meniupkan keberanian, ketabahan, kerendahan hati, dan aneka nilai luhur lainnya. Beberapa favorit saya ialah Balas Budi Burung Gagak yang memilukan, Adikku Siluman Rubah yang seram (padahal saya mengerjakannya malam hari sendirian), Dongeng yang Menuntut Balas (tidak kalah mendirikan bulu roma), serta Tangisan Katak Hijau yang benar-benar membuat saya berlinang air mata.

Bukti terbit telah sampai ke tangan, dan saya terpesona oleh tata letak yang cantik. Terima kasih, Techno. Terima kasih, sang desainer cover, Mbak Ellina Wu.

Terlepas dari kekurangannya, semoga 101 Cerita Bijak Korea menjadi bintang terang yang memancarkan lebih banyak lagi ilham seperti tiga bersaudara Hoasaki, Pangsoki, dan Tosoki.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

One Response to “ 101 Cerita, Lebih dari 101 Hari Bekerja ”

Leave a Reply

  • (not be published)