Sumber cover: haltebikumiku

Komikus: Vbi Djenggotten

Penerbit: Cendana Art Media

Editor: Beng Rahadian

Tebal: 136 halaman

Cetakan: Kedua, Januari 2013

 

Masalah cinta tanah air tak kalah ramai diperdebatkan (dan kerap kali tidak menjumpai titik temu) seperti halnya cinta yang lain. Ada yang mengatakan, right or wrong is my country. Ada lagi yang berkilah, kalau salah ya jangan dibela. Ada versi lain yang lumayan tajam dalam komik ini, bahwa saking berpegang pada pepatah, (sebagian) orang Indonesia membiarkan saja hujan emas di negeri orang dalam arti harfiah.

Dengan bahasa gambar, komikus memperlihatkan bahwa definisi dan pengejawantahan cinta tanah air begitu beragam. Sebagian merasa bebas bertindak suka-suka, tak kalah banyak yang memelihara kebiasaan sehingga menjadi “kekhasan”. Ini salah satu favorit suami, yang berkata, “Vebi jeli dapat menangkap kontradiksinya.”

malay

Seperti wejangan baheula, “Cinta dan benci jaraknya tipis belaka.” Tidak jarang, kita justru mencintai sesuatu meski mengaku membencinya.
Saya sendiri tersenyum-senyum membaca bagian ini:

bike2work

Pasti ada dalihnya kalau mau dicari: kan sehat itu mahal, lagi pula tidak semahal kalau sakit. Teringat ucapan Mario Teguh, kita memang bertitel M.A, “Master of Alasan”.

Kendati ada beberapa hal yang pernah dibahas di karya lain atau komik lain, tak pelak 101% Cinta Indonesia membuat saya sulit berhenti sampai tamat membaca. Ada yang serupa dengan pengalaman sendiri, ada yang bikin geleng-geleng miris semisal naik motor sambil SMS-an. Tanpa bermaksud membela diri sebagai pembonceng motor, yang naik mobil dan berjalan kaki (bahkan menyeberang!) sambil berhape juga banyak dan tak kalah berbahayanya. Perlu diacungi jempol akan observasi Vebi terhadap fenomena kekinian, termasuk iklan rumah mewah yang menurutnya “seperti jual obat panu”. Bukan tak peka kalau saya tertawa, ya memang lucu meskipun getir:D “Hanya sekian ratus juta,” ucapan khas dalam iklan itu, seolah uang sebegitu banyak tinggal memetik di pohon.

Yang membuat tambah lucu dan istimewa, adalah keberanian komikus mengakui kelemahan sendiri. Walaupun tidak “wajib”, apa serunya membaca buku yang terkesan menuding-nuding pihak lain sedangkan sang kreator merasa benar terus? Saya ngakak sampai terjengkang (sebagian juga karena ingat kekonyolan sendiri) menyimak cerita Ngaret (no. 77). Demikian pula dua minimarket yang ibarat kembar siam, selalu berdampingan di lokasi mana saja. Berkat komik ini, saya baru tahu ada komunitas penyapu ranjau paku.

Ke depannya, saya berharap Vebi menelurkan komik 101 Inspirasi Positif Indonesia. Bukan berarti pengingat dan teguran tidak bagus, namun alangkah komplet dan menyenangkannya apabila dalam komik pun pembaca disuguhi aneka contoh sederhana dan inspiratif secara menyeluruh. Ibarat oasis di tengah gurun panas penuh berita negatif yang menyesakkan dari aneka media setiap hari. Dengan begitu, semoga kita bisa mencintai Indonesia dengan optimisme dan semangat berkontribusi (sekecil apa pun).

Maju terus, komik Indonesia!

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)