mizan.com

Judul: 12 Menit

Penulis: Oka Aurora

Penggagas cerita: Regina Septapi

Penyunting; @shinta_read dan @me_dorry

Penerbit: Noura Books, 2013

Tebal: xiv + 348 halaman

 

Untuk menghasilkan sesuatu yang sering kali ditandaskan dalam waktu singkat, dibutuhkan proses berkepanjangan. Tayangan iklan yang hanya sekian menit di televisi perlu digodok berulang kali dan menghimpun berbagai ide agar mencolok sekaligus menancap di ingatan pemirsa, mengingat deretan iklan lain yang berlomba membetot perhatian. Buku ini pun saya yakin melalui penggarapan yang tidak sebentar untuk merumuskan gagasan yang matang. Entah berapa lama persisnya, agar dapat saya baca dengan nikmat dalam tempo hampir dua minggu.

Guna mewujudkan cita-cita, bermimpi saja tidak cukup. Bangun, bangkit, bertindak untuk menjadikannya nyata. Tentu saja yang dimaksud buku 12 Menit ini mimpi indah meraih kemenangan di Jakarta. Kota yang terasa asing bagi sejumlah remaja di Bontang. Dari sana, daya tarik cerita mulai tampak. Marching band selaku salah satu elemen musik yang menghimpun kebersamaan terbilang kurang familier bagi saya. Untunglah buku ini melampirkan daftar istilah di akhir buku.

Untuk saya pribadi, visualisasi membantu menyelami cerita. Menghidupkan karakter Rene, contohnya, saya membayangkan Titi Radjo Bintang yang memerankannya dalam film kelak. Tak urung ada rasa penasaran bagaimana bahan baku skenario film diadaptasi menjadi novel. Cepatkah alurnya? Lugaskah dialognya? Melarkah deskripsinya? Yang terakhir ini terbukti tidak terjadi.

Meski sempat kesulitan menghafal nama beberapa tokoh, tak ayal saya paling terpikat pada kisah Lahang. Kehadirannya dan pergulatan batin dengan kondisi sang ayah yang tengah sakit parah menjadi nilai tambah karena memperkuat kearifan lokal dalam novel ini. Tidak terlalu sulit membayangkan situasi rumahnya, kesederhanaan kesehariannya, termasuk ketika seorang teman datang dan mencoba turun tangan sekadar membantu mengangkati jemuran.

Memang banyak anak seperti Lahang di Indonesia. Tapi limpahan informasi yang ingar-bingar kerap membuat saya lupa bahwa ada remaja yang tidak sempat galau seperti Lahang, Tara, bahkan Elaine. Problematika Elaine dengan ayahnya bisa jadi klise, dengan kata lain dialami hampir semua orang. Namun bubuhan latar belakang etnis ayahnya menjadikan profil Elaine agak berbeda. Salut karena novel ini tidak “terjebak” menggampangkan penyelesaian konflik.

Tak bisa dimungkiri, saya membaca 12 Menit dengan kacamata orang dewasa. Membayangkan betapa risau Oma menghadapi Tara yang merasa ditelantarkan dan sering kali cepat menyerah, menyelami keresahan Ibu Tara yang harus berjauhan dengan anak satu-satunya demi masa depan, serta mengagumi ketangguhan mental ayah Lahang yang mendengungkan, “Hiduplah. Jangan seperti orang mati.”


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)