wisata-buku.com

 

Penulis: Mel

Penerbit: Akoer, 2009

Tebal: 224 halaman

Orangtua acap kali lupa, bahwa mereka pernah menjadi anak-anak. Mengarungi masa kecil dengan sukaria, penuh tanya, penuh rasa ingin tahu dan aneka ‘problematikanya’.

Orangtua sering kali abai, bahwa mereka harus senantiasa membekali diri dengan ilmu yang konkret tanpa perlu berpaling jauh-jauh dari keseharian dan lingkungannya. Cukup dengan menolehkan muka, memasang telinga, dan membuka hati lebar-lebar pada buah hati mereka.

Orangtua kerap mendudukkan posisi terlalu tinggi, meski memang anak-anak bukan teman pada masa tertentu. Namun menggenggam keyakinan bahwa orangtua selalu benar, selalu paling tahu ‘hanya’ karena lahir lebih dulu beberapa puluh tahun, sungguh keliru besar.

Sedari mula, selepas lembaran testimoni, Mel menggulirkan aneka cerita yang mengenyakkan. Bukan karena mengagetkan bak sambaran petir di siang bolong, melainkan karena banyak kebenaran dalam pesan yang terselip dan betapa mudah kita mengabaikannya. Tentang imajinasi, misalnya. Apakah salah bila anak memberi warna batang pohon selain cokelat? Bagaimana ketika anak menanyakan apakah dan kapan ia memiliki anak pula, lalu orangtua mengumpamakannya dengan hadiah, sehingga si anak membayangkan akan mendapatkan anak keluar dari kotak kado?

Berangkat dari dialog-dialog simpel yang penuh makna, Mel mengajak kita merenung. Dengan bahasa yang bening dan ‘menegur halus’, ia bertutur seperti ini:

Tapi mungkin jika makin berumur, harusnya hati lebih sering dicek, ya. Fungsinya masih baik tidak. Karena ragam reminder luar tadi, makin tidak punya makna banyak jika si hati sendiri tidak punya fasilitas reminder. Buatku, semakin berumur, selain telinga dan daya ingat, hati akan juga berperan sebagai pengingat yang baik. (Day 2, Reminder, hal. 42-43)

Dengan analogi kertas yang diolah sedemikian rupa, terpapar visi yang cukup jernih untuk mengenal dan memahami anak-anak sekaligus mengenali diri kita sendiri.

“Semua tahu bahwa anak-anak memang lembaran kosong yang menunggu diisi. Ditulis. Dan seburuk apa pun aku, dengan semua kualitas minus yang tak patut dibanggakan, aku tetap tahu idealisme untuk memberi hal baik buat mereka. Layaknya menulis, si Penulis harus menguasai bahan yang akan dituliskan jika ingin hasilnya bagus. Bukan asal tulis. Bukan diisi dengan makian ala blog curhat yang sedang menuang kekesalan atau mengisi waktu senggang. Ini karya tulis. Karya tulis yang bisa jadi diterbitkan. Dibaca banyak orang. Lebih baik lagi jadi inspirasi buat banyak orang. Ke dalamnya aku ingin mengisi hal-hal baik.”

(hal. 47-48)

Banyak sudut pandang yang relatif baru dihadirkan dalam cerita demi cerita. Tentang si Sulung yang tetap percaya diri meskipun kurus, sebab tidak dihakimi soal kurus-gemuk asalkan sehat. Ihwal perhatian kecil yang sering tersingkir hanya karena alasan waktu, padahal sedikit sentuhan saja dapat menjadi energi. Juga kencan ibu-anak, yang kali lain berganti keberduaan anak dan ibunya sebab sang ananda letih sepulang sekolah. Selama ibunya menemani, buah hati Mel menghiburnya dan berusaha membuatnya tidak jemu.

Namun kisah paling bersinar dalam buku ini adalah Day 20: Anak. Secara lugas, Mel mengemukakan pendapat sebagai berikut:

“Kehadiran anak-anak sepatutnya jadi sumber kebahagiaan orang tua, ya? Atau diharapkan dapat membahagiakan orang tuanya? Itu dua kalimat yang jadi berlainan artinya. Kalimat pertama menyiratkan bahwa orang tua berbahagia hanya karena keberadaan mereka. Tanpa berpamrih, mereka sudah cukup berbahagia karena “anak-anak itu adalah sumber kebahagiaan mereka”. Kalimat kedua, tentu cukup jelas artinya. anak-anak secara tersirat dituntut berbuat sesuatu, diharapkan dengan demikian mereka dapat membuat orang tuanya berbahagia.” (hal. 146-147).

Tidak berkepanjangan ‘hujan embun’ yang ditimbulkan tulisan Mel. Pembaca diajak tergelak dengan keluguan si kecil berlaku posesif atas ibunda, pula perhatiannya yang cermat akan detail bahkan pada cerita yang dibacakan. Bahan-bahan melimpah untuk berpikir dalam mengasuh anak dan memupuk upaya menjadi orangtua yang ‘baik dan benar’ dipungkas dengan syair Khalil Gibran, petikan puisi, dan dongeng anak yang manis sekali.

Klasifikasi cerita tertata apik. Sangat disayangkan, tidak ada daftar isi. Mel sendiri hanya menggoreskan pesan tegas bahwa ia tidak menggurui siapa pun dengan bukunya ini, tanpa menorehkan profil singkat. Cara yang unik atas sebuah karya segar dan lebih dari sekadar menarik.

[rating=4]

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)