Komikus: vbi_djenggotten

Penerbit: Zaytuna, Februari 2012

Tebal: 160 halaman

Sumber kaver

Jabatan itu ujian, bukan hadiah yang bisa dibeli atau sedekah yang harus diminta… (hal. 79)

Entah karena sudah lama menunggu, entah karena memang sudah kangen membaca komik dengan alasan klise menyangkut keterbatasan waktu dan keletihan lantaran sering ‘ditimbun’ teks melulu tanpa gambar, saya lebih cepat menuntaskan baca komik ini daripada yang pertama. Mungkin juga sebab relatif lebih tipis (kalau tak salah, dibandingkan sebelumnya) dan cerita-ceritanya lebih ‘melesat’ singkat meski tidak terkesan ‘menggantung’ hingga membuat bertanya-tanya. Memang yang bermisi religius, perlu disampaikan seringkas dan setepat mungkin, tidak terlalu ‘berayun-ayun’ sehingga pembaca mengantuk dan malah kehilangan inti pesannya. Tentu dibantu bahasa yang proporsional dan dalam hal ini, karena formatnya komik, gambar yang tepat.

Buku yang mengetuk ini terasa kentara nuansa personalnya, maksud saya mencerminkan kegelisahan batin sang komikus. Mudah-mudahan saya tidak keliru berpendapat. Diawali dengan mimpi si Mbong berupa dialog dan pertanyaan menohok anaknya, diantarlah kita pada pesan-pesan singkat yang bukan SMS melainkan pengingat sampai hal-hal sederhana yang kerap kita temui setiap hari.

Sebagian besar bersentuhan dengan tontonan di TV, yang juga mengundang kerut kening saya. Semisal Waspada Durhaka (hal. 24). Selucu-lucunya humor, saya tidak habis pikir dengan serempetan yang memburukkan orangtua atau saudara. Komikus juga memotret peristiwa aktual, antara lain desak-desakan gadget diskon besar yang menelan banyak korban belum lama ini (hal. 48).

Saya mencermati benar perihal kebohongan yang diperbolehkan, salah satunya berbohong dengan tujuan untuk mendamaikan pihak yang bertikai (hal. 57). Ini tindakan penuh strategi yang membutuhkan kehati-hatian, mengingat niat baik tidak serta-merta bersambut positif dan tidak pula mudah dipraktikkan. Tersenyumlah saya membaca kebohongan lain yang diperkenankan, yakni ‘dan perkataan bohong suami terhadap istrinya atau sebaliknya (untuk kemaslahatan rumah tangga keduanya)’. Ini lebih luas lagi, maka komikus melampirkan contoh yang ‘remeh’ tapi sering terjadi juga, termasuk di rumah saya, ihwal rasa masakan.

Saya masih harus belajar lagi mengenai itu.

Masih kurang tertohok? Ada bahasan menyangkut hadis satu ini:

“Dua orang yang saling memaki, dosanya atas orang yang mulai memaki, selama yang dimaki tidak membalas berlebihan (HR. Muslim).” (hal. 94)

Apakah penutup komik ini juga suara hati sang komikus yang paling dalam? Tentu hanya ia sendiri yang bisa menjawabnya:)

Terima kasih banyak, Haya, atas hadiah berkesan ini.

Skor: 4/5


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)