Film lepas Korea yang saya tonton sampai tamat terakhir kali adalah Harmony. Nonton ulang malah, karena NET menayangkannya di suatu bulan tahun lalu. Saya bela-belain melanggar jam tidur dan menyumpalkan tisu sambil memalingkan muka dari Mas Agus malam itu:)) Setelahnya, ada seri Korea di CT Channel yang saya tonton tentang masak-memasak tapi saya tidak ingat judulnya. Termasuk film yang ceria dan kocak.

Belum lama ini saya nyasar ke forum penggemar film Filipina. Di forum berbahasa Filipina campur Inggris itu, para anggota berkelakar bahwa film mereka seperti komedi saja layaknya bila dibandingkan dengan film Korea. Ada yang berseloroh bahwa 3 dari 5 film Korea yang ditontonnya pasti menjebol bendungan airmata. Beberapa judul direkomendasikan dengan komentar, “You will cry to death.”

Saya nonton film, yang dijuduli My Son oleh NET, ini juga mengikuti insting. Narasinya keliru mengatakan sang ayah (Kang-sik) adalah tahanan vonis mati. Memilukan sekali pastinya kalau benar. Tapi itu pun cukup untuk mendorong saya nonton di malam yang dingin dan berangin keras.

Karena berkelakuan baik, Kang-sik yang divonis seumur hidup lantaran membunuh dan merampok diperbolehkan menemui anaknya satu hari saja. Sang anak terakhir kali masih berusia 3 tahun, 15 tahun berselang dan Kang-sik lupa wajahnya. Hari yang mendebarkan bagi sang napi dan putranya, Joon-suk, yang sudah remaja.

Joon-suk ternyata hidup berdua saja dengan sang nenek (ibu Kang-sik) yang lansia dan harus dirawat. Wanita itu tidak mengenali Kang-sik lagi. Saat-saat yang rikuh dan canggung menjadikan keduanya gemas karena waktu mereka sangat terbatas. Demikian pula sang sipir yang mendampingi Kang-sik ke rumah itu.

Cerita membuat saya tersenyum, kadang terharu, lalu bertanya-tanya karena ingat kata teman yang sudah nonton, “Mana nih sedihnya? Kayaknya kurang sedih untuk kelas film Korea.” Dan jreeng… Seperti biasa sineas Korea pintar mengacak-acak emosi di saat yang tak terduga. Terjadilah adegan sumpal tisu dan banjir airmata lagi. Masokis ya? Tapi mata saya memang lagi pegal dan butuh dibasuh:))

Setelah Wedding Dress, Harmony, A Moment To Remember, dan My Mom, inilah film yang sukses mencabik-cabik perasaan saya. Tanpa mengurangi rasa hormat pada kalangan Hollywood, saya makin mengerti mengapa mereka tidak sukses mengadaptasi karya layar perak Korea seperti Oldboy yang ramai dibicarakan orang itu.

 

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)