Mengapa gambar ini yang diambil, bukan posternya? Yah, karena saya juga terkesan oleh lokasi-lokasi syuting film komedi romantis ini, seperti kebanyakan penonton lain. Termasuk pemilik blog di atas. Hanya saja yang paling saya sukai, apartemen kedua tokoh utama ^_^

Jujur, cukup lama saya memutuskan bisa memasukkan Ashton Kutcher dalam daftar aktor favorit. Imej konyolnya dalam That 70’s Show terlalu melekat. Pandangan itu berubah setelah nonton The Butterfly Effect, sampai-sampai saya malas nonton sekuelnya. Kesan manis mantan suami Demi Moore ini berkembang ketika saya nonton No Strings Attached, bahkan dulu saya menganggap tokoh yang diperankan Nathalie Portman jahat banget:p

Mulailah saya melihat-lihat film lama Kutcher. Dari beberapa yang sejenis, saya menjatuhkan pilihan pada A Lot Like Love karena karakter Amanda Peet biasanya cukup kuat sehingga firasat saya berkata, ini bukan komedi romantis yang biasa. Di luar sana, ada penonton yang mengatakan film ini pantas dilabeli drama.

Memang yang dibicarakan bukan semata percintaan, melainkan sikap hidup dan rencana seseorang. Seberapa kuat seseorang dapat menepati dan mengendalikan rencana yang dia susun? Oliver Martin (Kutcher) bertaruh 50 dolar dengan Emily (Amanda Peet) bahwa dia akan sukses enam tahun lagi dan beristrikan wanita cantik.

Sedari mula, pertemuan Emily dan Oliver menunjukkan pertanda plot yang cepat. Perkenalan yang nakal dan berani, mengingat Emily baru saja putus dengan pacarnya yang gitaris. Rasanya itu mirip karakter yang diperankan Amanda Peet dulu-dulu, namun ternyata di sini jauh lebih dalam. Chemistry mereka sangat baik, dibantu tata rias yang mendukung peralihan waktu, serta dialog-dialog yang membuat kerasan menonton.

Honestly, if you’re not willing to sound stupid you don’t deserve to be in love.

Keduanya digambarkan sangat manusiawi, “bukan siapa-siapa”. Emily merintis sebagai pemain film independen, sedangkan Oliver berusaha pindah dari rumah orangtuanya dan membangun bisnis online. Sama-sama tidak buruk rupa, namun kerap nahas. Buat saya, kisah romantis harus mengandung kejenakaan sebab orang yang layak dicintai adalah teman untuk tertawa bersama. Itu terpenuhi oleh A Lot Like Love, semisal kala Oliver dan Emily membalikkan ucapan masing-masing. Atau menyanyi lagu Chicago, If You Leave Me Now.

Catatan tambahan: lagu-lagu yang menghiasi film ini bikin saya makin lengket ke tempat duduk.

Hal lain yang menyenangkan, keakraban Oliver dengan kakaknya, Graham, yang tunarungu. Komunikasi mereka menghangatkan hati.

Oliver. This is your life. Right now. It doesn’t wait for you to get back on your feet.

Beberapa unsur sederhana dapat diterka, namun sama sekali tidak merusak keasyikannya.

[rating=4]

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

PREVIOUS ARTICLE

Leave a Reply

  • (not be published)