rp_917898_1432341577019079_1946506098_a.jpg

Semasa kuliah, saya sempat dilanda kecemasan karena dialek bahasa Prancis dan Inggris saya kental sekali Indonesianya. Tidak bisa dibilang mendekati aksen asli. Namun sekarang saya mantap mengatakan pada anak-anak tetangga yang kerap main ke rumah bahwa itu bukan masalah. Yang penting lawan bicara (lawan komunikasi, tepatnya, secara tertulis pun bisa) memahami maksud kita. Keyakinan itu timbul ketika saya menempuh ujian DELF sekitar 17 tahun silam dan penutur asli sama sekali tidak “menghakimi” bahkan mengernyit tak ramah menyimak uraian peserta, termasuk saya.

Penuh hormat saya pada Marc Le Moullec, yang kemudian berkontribusi dalam penerbitan dan penyusunan peta Bandung.

Bahasa Jerman yang saya pelajari dengan senang hati di SMA sudah terkikis. Saya rela, tapi mendiang Bapak tampaknya tidak begitu. Beliau tak henti-henti menyinggung Deutsch sprechen. Oleh karena itulah saya biarkan kamus Prancis-Belanda, kamus Belanda, dan lainnya di rak. Mungkin kapan-kapan saya akan belajar bahasa asing lain lagi. Kamus Jermannya sih, belum tergerak beli, padahal sering lihat di toko.

Hobi saya belakangan ini adalah membaca-baca artikel memotivasi mengenai penerjemahan. Saya kagum bukan buatan pada penerjemah yang berspesifikasi, misalnya, Inggris-Jepang bidang teknik. Atau penerjemah Jepang-Prancis seperti di artikel ini. Itu sulitnya minta maaf! (Minta ampun, plesetan teman). Tak urung, saya perhatikan juga pernyataan, Then I want to apologize for my late response and my mediocre English skills.

Jujur, pertemuan lebih kerap dengan materi berbahasa Inggris membuat saya risau. Kalau membaca buku bahasa Prancis atau artikel Prancis dan tidak terlalu mengerti isinya, saya panik. Jangan-jangan bahasa Prancis saya luntur. Kenapa mesti heboh? Sayang banget, soalnya saya “bertelur” 7,5 tahun di kampus untuk mempelajari ilmu ini. Tapi selain pakyu (paktor yuswa, alias faktor usia), harus diakui setiap pergantian topik membutuhkan peralihan dalam waktu tertentu. Tiap orang berbeda-beda.

Saya lebih gelisah lagi perihal kemampuan bahasa daerah saya. Membaca buku bahasa Jawa relatif lebih lancar (meski jauh dari mahir) sedangkan bahasa ibu sendiri (Sunda) tidak sampai-sampai satu halaman, padahal tipis bukunya. Seseorang menenangkan saya, lupa apakah saudara atau teman. Katanya, “Biasanya bidang yang baru lebih menarik, minat itulah yang mendorong terus. Bidang lama atau “bawaan lahir” cenderung dianggap biasa, tanpa sadar kita merasa sudah jago.”


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

PREVIOUS ARTICLE

Leave a Reply

  • (not be published)