Sampai sekarang, saya masih menggunakan kamus Prancis-Indonesia yang dibeli sejak kuliah dulu. Terbitan 1991. Sebenarnya cukup banyak kosakata yang termuat di sana, didukung kamus Prancis-Prancis yang sudah membuat dosen mengangkat alis ketika tahu harganya di akhir tahun 90-an.

Sewaktu menerjemahkan dan menyunting buku tema tertentu, kamus itu terasa kurang memadai. Google tidak selalu dapat diandalkan, demikian pula kamus online Prancis-Inggris. Sejauh ini, belum ada temuan online berupa kamus Prancis-Indonesia. Alhasil, riset menjadi lebih rumit dan makan waktu seperti yang saya alami suatu kali.

Kalaupun kosakatanya ada di kamus cetak yang saya miliki, tetap saja ada kerja ekstra sebab masih banyak ejaan yang belum sesuai KBBI. Harus saya akui, menentukan padanan untuk menyusun kamus istilah khusus jauh dari mudah. Sewaktu menerjemahkan buku sains Prancis dan menelusuri Google, saya mendapati istilah yang berbeda-beda. Jujur, saya tidak selalu menerapkan hukum “yang lebih sering muncul itulah yang benar”. Adakalanya saya membaca protes pihak tertentu, dalam hal ini ilmuwan, akan suatu istilah. Kadang-kadang saya “mengganggu” teman yang berlatar belakang akademik relevan untuk berkonsultasi. Ini tidak efektif memang.

Merujuk pada kamus Prancis-Inggris seperti wordreference.com acap kali memunculkan kerumitan lain. Saya sempat pening ketika poisson-lune diartikan sunfish. Padanan di Google ada dua: “ikan bulan” dan “ikan matahari”. Karena buku aslinya berbahasa Prancis, saya berniat setia pada istilah Prancisnya saja. Namun akhirnya saya menggunakan “ikan mola-mola”.

Suatu tahun, saya mengalami kendala sejenis dengan kamus Inggris-Indonesia. Kamus yang ada dan terbitan lama tidak bisa disebut lengkap meski konon telah direvisi. Di satu kesempatan bertemu penerbit, saya mengajukan usul untuk menerbitkan kamus baru yang pasti dibutuhkan banyak orang. Alasan para editor sangat bisa dimaklumi, penyusunnya harus ahli atau tim yang berdedikasi mengerahkan waktu dan tenaga.

Kesimpulannya, keadaan ini menuntut saya belajar bahasa Inggris lagi (sementara masih berjudul “niat”). Dengan begitu, mudah-mudahan proses riset tidak kelewat berkepanjangan jika menerjemahkan buku Prancis bertopik spesifik.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)