Berikut ini salah satu adegan paling menyedihkan yang pernah saya terjemahkan. Anda tentu dengan mudah menerka dari buku mana asalnya.

[sws_blockquote_endquote align=”” cite=”” quotestyle=”style01″] “Anne, cepat cari Martin! Ia ada di ladang,” seru Marilla.

Martin, pembantu Matthew, bergegas mencari dokter dan memanggil kedua orangtua Diana di Orchard Slope. Rachel juga datang tergopoh-gopoh. Mereka menemukan Anne dan Marilla berusaha menyadarkan Matthew kembali.

Rachel meminta keduanya bergeser dan meraba pergelangan tangan Matthew. Kemudian ditempelkannya telinga ke dada lelaki itu.

Rachel menoleh pada kedua wanita yang cemas itu dengan mata basah. “Marilla, Matthew sudah meninggal.”

“Rachel, kau tak mungkin…” Anne tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Wajahnya kian pucat.

“Sayangnya begitu, Nak. Lihatlah wajahnya. Kau akan tahu kalau sudah sering melihat wajah seperti itu.”

Anne terdiam sampai dokter datang dan membenarkan dugaan Rachel. “Ia meninggal seketika karena terguncang sesuatu. Sesuatu yang telak menyerang jantungnya.”

Kertas yang dipegang Matthew itulah sumbernya. Martin membawanya dari kantor pos pagi ini. Di dalamnya tertulis bahwa Bank Abbey telah bangkrut. [/sws_blockquote_endquote]

 

Yang satu ini adegan mengenaskan. Saya merinding menerjemahkannya. Sengaja judul tidak disebut, karena khawatir menjadi spoiler.

Saat pasangan-pasangan tersebut berjalan perlahan kembali di gang di antara tempat-tempat duduk, menerima ucapan selamat dan salam dari teman-teman mereka, Camillo melompat ke muka Pangeran Carlo lalu menikam dadanya.

Gereja ricuh. Lucia meraih tempat lilin dari kapel samping kemudian menghantamkannya kuat-kuat ke kepala Camillo. Fabrizio, yang persis di depan mereka, langsung menggorok leher pemuda Nucci itu. Filippo Nucci, diamuk amarah, berbaur dalam keributan itu. Lalu terdengar denting pisau dan pedang di mana-mana.

Dari sudut mata, Grand Duke melihat gaun perak terkenal itu bernoda darah, kemudian pemakainya roboh di tangan dua pemuda. Ia hanya sempat memperhatikan bahwa salah satunya adalah pemuda Bellezza berambut hitam yang dulu teman Falco, sebelum melawan musuh yang mendesaknya.

Fabrizio dan Alfonso masing-masing bertempur dengan Nucci. Nicholas memungut pisau yang jatuh lalu berkelahi bersama mereka. Guido Parola meninggalkan wanita yang luka tadi dengan Luciano lalu berlari ke sisi Lucia, yang membungkuk di atas mayat suaminya, kemudian menyeretnya kembali ke altar. Wanita muda itu histeris.

Di bagian lain, emosi saya masih teraduk-aduk karena sebengis apa pun, selalu memilukan apabila orangtua kehilangan anaknya secara tragis.

Kisah pembantaian itu tersebar ke seluruh kota. Mayat-mayat Nucci yang digantung di Piazza Ducale dan pita hitam di muka pintu Palazzo di Chimici membuktikan sebagian cerita, dan dalam waktu singkat orang tahu semuanya. Namun tak seorang pun mengira akan melihat apa yang berlangsung menjelang siang. Matteo dan Graziella Nucci, masih mengenakan busana megah yang bernoda darah dan lumpur, berjalan tenang dari menara Salvini ke Palazzo Ducale untuk memohon jenazah Camillo Nucci. Sang putra tidak berada di antara mayat-mayat yang dipertontonkan di piazza, kendati hati mereka sangat pedih melihat para keponakan dan saudara digantung di sana.

Sang Grand Duke sendiri menuju pintu ketika mendengar siapa tamu-tamunya.

“Sungguh jarang rubah kembali ke perangkap dengan sukarela,” katanya saat melihat Matteo Nucci.

Pria tua itu berlutut di lapangan yang berlumpur.

“Lakukan apa saja sesukamu terhadapku,” katanya. “Aku tak peduli. Tapi pertama-tama izinkan kami menguburkan putra kami dan beri tahu kami apakah ada jenazah lain, yaitu saudaranya, untuk dimakamkan bersama. Kau sudah merenggut semua putra kami dan kami siap bergabung dengan mereka.”

“Aku merenggut?” Niccolò naik darah. “Putraku sendiri terbaring tak bernyawa di kapel dan salah satu menantuku menjadi janda di hari pernikahannya. Dan nyawa dua putraku yang lain tengah kritis, semua karena putramu si pembunuh.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)