Seorang kolega pernah berkelakar, keuntungan menjadi editor atau penerjemah buku adalah membaca seluruh naskah bulat-bulat. Tanpa terlewat, sebagaimana uraian Nur Aini di postingan blognya. Jadi penerjemah dan editorlah yang tahu “aslinya” suatu cerita mengandung adegan dan unsur apa saja, sekiranya penerbit mengisyaratkan sensor baik besar-besaran maupun sebagian belaka.

Elemen rasa dalam kepembacaan naskah, fiksi atau bukan, memang sangat subjektif. Apa yang menurut saya wajar saja, belum tentu demikian bagi pihak lain. Begitu pula sebaliknya. Sebagai penggemar thriller dan horor (yang sering dikira orang “sangat berani”, padahal sih tetap penakut juga), sudah merupakan konsekuensi saya menemui yang berbau sadis dan menyeramkan tadi. Kadang-kadang di luar dugaan. Berikut beberapa yang saya ingat:

1. Penikaman wanita hamil

2. Menyayat kuda dan meminum darahnya hidup-hidup

3. Menggorok leher musuh kemudian makan dagingnya

4. Pembedahan manual tradisional dengan merogoh perut pasien

5. Pembantaian dengan kapak sampai darah muncrat ke mana-mana

6. Penculik yang menggergaji kepala korbannya

Semula jeri memang, lambat laun terbiasa juga dengan adegan-adegan pembunuhan dan penyiksaan. Yang bikin paling tidak tahan justru penganiayaan anak dan pemerkosaan [pernah ada kisah wanita hamil muda yang diperkosa penculik]. Saya pun meringis campur mual ketika menghadapi adegan hubungan badan dua remaja di bawah umur, walaupun tidak terlalu detail. Tapi itu perkara lain.

“Tantangan” lumayan memusingkan juga sewaktu menyunting adegan pemakaian narkoba. Rasanya kepala ikut pening dan napas jadi sesak, apalagi uraiannya sampai berparagraf-paragraf. Ketika menengok web penulisnya, ternyata diangkat dari pengalaman dia sendiri. Oalah, pantas begitu “hidup” penggambarannya…

Seiring waktu, makin terang bagi saya bahwa horor sering dikelirukan dengan thriller. Memang thriller termasuk horor, namun tidak semua horor merupakan thriller. Bedanya setipis ujung rambut. Menurut saya, thriller lebih rinci secara visual dan deskripsi, sedangkan horor dilesatkan oleh imajinasi. Sebut saja, suatu waktu, saya pernah menerjemahkan “sosok putih di kejauhan berkecipak di sungai tengah hutan pada tengah malam”. Saya bergidik dan langsung membayangkan macam-macam. Tetapi bagi orang lain, bisa jadi itu biasa saja dan tidak menakutkan sama sekali.

Sejauh ini, sependek pengetahuan saya, horor dan thriller senantiasa mengandung kesedihan. Bagaimana tidak sedih, misalnya, jika yang dibunuh secara sadis itu saudara sendiri? Atau teman yang sudah banyak berkorban tapi terpaksa “disingkirkan”? Kalau disodori opsi, saya lebih memilih adegan sadis ketimbang adegan “bergolak berapi-api”.

Ihwal menyensor dan menghaluskan adegan bergolak tadi, saya sudah beberapa kali diajari meski belum tahu sudah terbilang berhasil atau belum. Mengenai adegan sadis, saya belum tahu cara “memperhalusnya”. Anda punya kiat, barangkali?

 

 

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)