wikipedia

Awalnya saya menduga ini film horor ‘biasa’. Tapi rasanya sukar membayangkan Liam Neeson membintangi film yang hanya ‘menakut-nakuti’ tanpa pesan yang bisa dipetik. Yang terlintas paling awal dalam benak saya adalah, “Seperti apakah kehidupan dan prosedur kerja seorang pengurus jenazah?”

Tema yang unik, tentu saja. Saya tidak tahu bagaimana seluk-beluk seorang pengurus jenazah di sini, tapi dalam film ini setidaknya, jauh dari kesan ‘kotor’ meski jelas repot. Elliot Deacon (Liam Neeson) mendandani jenazah, apa pun keadaannya, bahkan melayani permintaan pihak keluarga untuk penampilan tertentu. Misal agar almarhum tampak lebih ceria, atau mengepit sesuatu yang akrab dengannya semasa hidup. Ruang kerjanya sangat apik dan bisa dikatakan mewah, dalam kesendirian Elliot.

Elliot memiliki kemampuan khusus berdialog dengan orang yang sudah meninggal. Termasuk Anna Taylor (Christina Ricci), guru sekolah yang tidak menerima begitu saja bahwa ia sudah tiada. Terjadilah debat kusir dan upaya melarikan diri, yang dinilai Elliot pengingkaran biasa dan juga dilakukan orang-orang mati lain. Dukacita yang sama menikam tunangan Anna, Paul Coleman (Justin Long). Di sini tergambar bahwa kesedihan dan ketidakikhlasan dapat membuat seseorang bertindak di luar kendali.

Bila tidak biasa menyaksikan plot ulang-alik yang cenderung absurd, mungkin film ini terkesan membingungkan. Namun kedalaman dialog dan pesannya tetap membuat saya terkesima dan sukar menghentikan diri untuk terus menyimak sampai tuntas. Seperti salah satu perkataan Elliot, “You are all the same. You said you’re scared of death, but actually you’re scared of life.” Dan menurutnya, hidup yang tidak layak dipertahankan, orang yang menjalani kehidupan tanpa tujuan tak ubahnya mayat bergentayangan. Sedangkan lebih banyak orang yang benar-benar ingin hidup dan bisa menghargainya sehingga layak untuk itu.

Ada kalanya pertanyaan tak perlu dijawab. Dan film After.Life membebaskan penonton berinterpretasi. Itulah yang sangat saya sukai.

Skor: 4/5

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)