Gregetan itu lumrah. Dorongan mengeluh, yang tidak ada habisnya dan sangat disadari tidak memecahkan masalah (dengan kata lain: andai mengeluh membuat kerjaan langsung selesai dengan “sempurna”, saya tak akan ragu melakukannya berulang kali), malah menghabiskan tenaga dan memburukkan suasana hati.
Secara global dan “klise”, salah satu pencegah atau peredam rasa gregetan ini adalah membalikkan posisi. Misalnya jika saya menerjemahkan, mungkin tersandung kalimat jlimet juga. Bila saya mengerjakan, belum tentu hasilnya lebih baik. Meminjam ucapan teman editor satu ini, kadang lebih mudah menilai terjemahan orang lain ketimbang hasil kerja sendiri. Kemudian prasangka baik bahwa penerjemah sedang lelah, mengantuk, dan teksnya memang membutuhkan kerja keras, bla bla bla.

Lalu bagaimana penyaluran atau pengalihan kegemasan tadi supaya tidak kontraproduktif sedangkan pekerjaan masih banyak?

Berikut beberapa cara yang tengah saya coba:

  • Taruh kertas coret-coret di samping. Untuk ngomel kalau terpaksa (daripada di medsos misalnya), gambar-gambaran, atau apa saja sebab kekesalan kadang menggembungkan energi. Anehnya, saya hampir tak pernah perlu menulis apa-apa di situ alias selalu kosong.
  • Taruh buku yang menyenangkan di samping laptop. Tiap kali ingin misuh-misuh, membaca satu halaman.
  • Mengudap, ini sih wajib hukumnya.
  • Memandang kalender yang ditandai deadline. Diumpamakan, ngomel-ngomel satu jam bisa digunakan untuk kerja barang satu halaman minimal.
  • Mendengarkan musik, berupa lagu-lagu penuh semangat. Ini manjur untuk segala problema yang merundung hati, buat saya. Jadilah godaan “pisuhan” dari editan menciut, sungguh kecil dan tak ada apa-apanya dibanding persoalan saya yang lain. Divisualkan juga efektif. Agaknya ini pengaruh cerita entah dari mana, atau bacaan di artikel apa, saya lupa, kalau kita yang muslim bilang, “Sial!” (maaf) maka setan membubung dan jadi sangat besar, tapi jika kita istighfar, dia mengecil dan jadi mini sekali. Kira-kira begitulah. Menyitir lagu Hey Jude di atas, “Don’t carry the world upon your shoulder.”
  • Menulis catatan koreksi. Ini tindakan yang paling relevan dan “sepantasnya”, terilhami seorang editor in house yang tekun. Kalau memang coretan merahnya (alias Track Changes untuk editan versi digital) banyak, ya tulis jugalah catatan koreksi yang panjang. Penerjemah berhak tahu, bahkan lebih berhak diberi informasi rinci begini ketimbang dimencak-mencaki baik japri maupun di dunia maya (amit-amit). Ini sambil menghibur diri mengingat saya penerjemah juga:p.
  • Tersenyum jika mendapati kesalahan tertentu. Ini sukar memang, tapi terbantu bila saya mengingat kesalahan sendiri waktu menerjemahkan. Contohnya, saya pernah terlewat beberapa baris (meski disusulkan setelah diberitahu editor via e-mail). Pernah juga menerjemahkan summer jadi “musim semi” karena ceroboh.
  • Berusaha sedapat mungkin melihat sisi baik hasil terjemahan di depan mata:

Oh, idiomnya tidak diterabas.
Oh, kalimatnya tidak ada yang melenceng, hanya model dialognya perlu diubah jadi pasif supaya lebih pas.
Ya ya, puisinya belum berima tapi setidaknya tidak terlewat.
Penerjemahnya rajin memecah per bab, sehingga file tidak membengkak akibat Track Changes.
Font-nya besar-besar dan pakai spasi ganda, mungkin sudah berfirasat dapat editor bermata silindris.
Typo-nya sedikit, ejaan tertentu saja yang belum familier karena beliau menerjemahkan sedari dahulu kala dan masih menggunakan selingkung lama.
Beberapa kata yang sudah lazim dalam bahasa Indonesia masih berbahasa Inggris, oh barangkali karena penerjemahnya bermukim di luar negeri dan terbiasa dengan istilah asing.
Syukurlah, tanda bacanya benar semua. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Sekadar info, penerjemah scroll down bukan berarti bersih seratus persen dari typo. Hanya saja jumlahnya sedikit, dan yang lebih penting alihbahasanya tepat sehingga hampir tidak perlu menengok buku asli sama sekali.

  • Membayangkan kerepotan editor in house, membuat kerjaan saya masih jauh lebih mendingan.
  • Berdoa sebelum bekerja, termasuk usai jeda makan siang, kadang-kadang berharap bab selanjutnya tidak terlalu panjang *ngaku deh:D*. Ini mengingatkan saya untuk bersyukur masih punya pekerjaan.
  • Menikmati cerita, kalau yang dihadapi fiksi (saya baru sekali menyunting nonfiksi). Ini bisa berlaku sebaliknya. Jika godaan mencak-mencak timbul, saya alihkan ke pengarangnya (maaf ya, para pengarang:D). Contohnya, “Duh, niat banget sih bikin kalimat beranak-cucu-buyut gini,” atau “Lha, tokoh yang tadi sudah mati, ngapain dibahas-bahas lagi?”
  • Mengingat jungkir-baliknya saya sampai ke titik ini. Menjadi editor adalah cita-cita saya, memakan waktu sangat lama dan proses yang berkelok-kelok, dan rasanya saya berlebihan jika beranggapan pekerjaan menarik idaman saya pasti serbamulus alias tidak ada tantangannya. Yang sulit-sulit itu bikin makin pintar, kata Tria Ayu.
  • Bila bertemu penerjemah senior, penerjemah produktif, atau pokoknya penerjemah yang ngetop di mata saya karena sering baca buku hasil garapannya, saya bersorak karena bisa banyak belajar. Bukan berarti dari yang belum dikenal jadi tidak belajar, ya:)
  • Pupujieun alias narsis. “Ini memang susah, tapi kalau saya bisa merampungkan, apalagi tidak molor dari tenggat, saya keren dong!” Konyol memang, namun mujarab.

Saya masih belajar untuk tidak kesal-kesal apalagi sampai dibawa tidur (rugi amat, saya suka sekali tidur:))) terkait penyuntingan, tapi alhamdulillah dengan kiat-kiat di atas – kalau boleh saya sebut kiat – saya makin mencintai pekerjaan ini dan relatif jarang sakit kepala seperti dulu:).

Nah, kawan-kawan editor, mari menyanyi. Pekerjaan kita menyenangkan, bukan?:D

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

2 Responses to “ Agar Menyunting Terjemahan Tetap Asyik ”

  1. gravatar Uci Reply
    June 15th, 2012

    Lagi belajar juga, biar ngeditnya bahagia 🙂

    • gravatar Rini Nurul Reply
      June 15th, 2012

      Uci pasti bisa:)

Leave a Reply

  • (not be published)