Bahandipilah2

Sungguh ini kisah yang konyol. Ketika selesai menerjemahkan, saya mengkompresi seluruh file lalu siap setor ke editor. Sudah attach, saya batalkan. Pikir saya, lebih baik dijadikan satu naskah. Jangan per bab.

Syukurlah saya lakukan itu. Ternyata lampiran di belakang hanya semacam ringkasan. Masih ada daftar isi yang belum diketik.

Berkat fitur preview di explorer, copas per bab dan menggabungkannya jadi lebih mudah dan cepat. Saya mengerjakan acak karena bukunya nonfiksi.

Baru ketahuan di tengah-tengah… saya terlewat menerjemahkan satu bab. Setelah ditinggal tidur, alhamdulillah selesai. Sekalian mengonsistenkan beberapa istilah sesuai selingkung.

Saya setor. Bersyukur teringat wejangan seorang editor dan proofreader untuk cek dulu.

Lalu terpikir… komentar-komentar yang saya bubuhkan hilang nggak ya?


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)