mizan.com

Penulis: Yadi Saeful Hidayat

Penyunting: Yuni Moniasih

Penerbit: Mizania, 2013

Cetakan: ke-2

Tebal: 186 halaman

 

Saya cukup selektif ihwal buku agama Islam. Bukan karena enggan membacanya, tapi saya menaruh ekspektasi tinggi antara lain dengan bahasa yang sederhana dan tidak berbelit-belit. Buat saya, lebih baik buku yang relatif tipis tapi isinya “penting” karena ketika membaca jenis ini, hati saya pasti merindukan ketenteraman dan keteduhan.

Jujur, cover indah adalah salah satu daya tarik buku ini. Yang lebih membuat saya penasaran adalah dalam waktu singkat, karya Ustadz Yadi ini sudah cetak ulang. Cukup lama baru saya dapat memperolehnya.

Sesuai harapan saya, bahasanya populer. Penulis tidak merasa “tabu” mengambil contoh-contoh dari dunia keseharian, termasuk mengutip ucapan Jim Morrison. Sudut pandangnya seperti mengobrol, lebih mengedepankan “kita” daripada “Anda” sehingga terasa menjadi ajakan yang lembut dan akrab.

Nilai positif dan istimewa suatu bacaan bagi saya, biasanya dapat diceritakan kembali pada suami. Satu di antaranya kisah dua malaikat yang bertamu (Masalah Itu Tak Seperti Kelihatannya, hal. 8). Saya berusaha tidak mengeluhkan akhir pekan setelah membaca ini

[sws_yellow_box box_size=”100″] Dalam Islam, tidak ada waktu sial atau waktu mujur, semua waktu sama. [/sws_yellow_box]

Nasihat favorit lainnya sbb:

[sws_blockquote_endquote align=”” cite=”” quotestyle=”style01″] Hidup itu layaknya deretan kata yang hanya menyisakan beberapa spasi. Sewaktu-waktu kita butuh koma (,) untuk mengistirahatkan perjalanan kita. [/sws_blockquote_endquote]

Saya pun terkesan dengan kisah pengembara yang menulis kemalangan di pasir, kemudian mengguratkan kegembiraan di batu. Mengingat kebaikan sekecil apa pun memang menjadikan hidup lebih ringan dan hati lebih tenang.

Saya baru paham (tepatnya baru tahu) bahwa perilaku buruk, tepatnya hubungan kurang baik, dengan pasangan dapat membuat hidup “seret”. Seorang kawan yang saya ceritai bertanya, “Berlaku untuk istri terhadap suami saja atau suami juga?” Saya jawab, “Kedua-duanya.”

Itulah nilai tambah lain buku ini. Bacaan yang cocok menjadi teman batin.

 

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

2 Responses to “ Aku Jauh Engkau Jauh Aku Dekat Engkau Dekat ”

  1. gravatar SP Reply
    May 1st, 2013

    “Dalam Islam, tidak ada waktu sial atau waktu mujur, semua waktu sama.”

    Semua ujian ya, Mbak. Good is good, bad is good. Good to test us :))

    • gravatar Rini Nurul Reply
      May 1st, 2013

      Benar Mei, seperti hal lain, waktu adalah rezeki sekaligus ujian:)

Leave a Reply

  • (not be published)