surat

Demikian kata Nui alias Nur Aini, penerjemah I Am Number Four, ketika kami mengobrolkan filmnya. Saya juga kesulitan mengingat-ingat ejaan nama Alex Pettyfer yang rada ribet. Harus googling dulu biar yakin.

Terilhami postingan Lulu ihwal nama, mau tak mau saya teringat kebiasaan lama. Sama dengan Indra, salah satu hobi saya adalah mengamati halaman hak cipta. Utamanya ketika membaca buku terjemahan. Mungkin semacam firasat, atau harapan, bertemu dan bekerja sama suatu hari kelak. Baik bertemu muka maupun tidak langsung (lewat e-mail/jesos/YM).

Urusan nama ini terkesan sepele, namun penting dalam berjejaring. Sekian belas tahun lalu di sebuah majalah manajemen (atau artikel karier), ada saran agar mengingat baik-baik kekhasan nama seseorang. Pernah baca twit atau status FB seseorang yang kesal lantaran namanya salah eja? Saya sering. Jadi menyusahkan kalau itu membuat dokumen penting nyasar atau tertukar dengan orang yang bernama mirip.

Contoh nahas, nama suami yang lumayan banyak kembarannya. Ketika kami masih seatap dengan ibu saya, banyak collector menanyakan seseorang bernama depan sama dan pernah mengontrak di alamat tersebut. Memang tinggal menjelaskan saja, tapi jujur ada rasa malu pada tetangga. Kami terpaksa menebalkan muka, toh para collector itu bersikap sopan. Suami sampai harus menunjukkan salinan dokumen pembelian rumah dan KTP-nya, yang kemudian dicatat tetamu. Sisi bagusnya, nama suami “nyasar” ke daftar hitam kredit beberapa bank. Alhamdulillah, satu alasan kuat untuk tidak berutang.

Mungkin saya kurang kerjaan karena suka mengamati nama tadi, mungkin bawaan masa SD-SMP yang mengharuskan saya memegang daftar hadir selaku sekretaris kelas. Tapi seperti anjuran dalam artikel karier dan manajemen, penyebutan nama yang benar menambah poin dalam hubungan personal dan berjejaring. Buku kenangan ketika tamat sekolah misalnya, dibuat bukan tanpa alasan.

Ini jadi semacam olah otak sewaktu saya mampu membedakan Nadiah Alwi dan Nadiah Abidin yang sama-sama penerjemah. Keduanya lulusan kampus yang sama, tapi satu jurusan Prancis dan satu lagi Sastra Jerman. Adakalanya saya memakai nama panggilan sebagai pembeda. Mbak Eno, panggilan Triani Retno yang penyunting dan penulis. Retno, nama kecil Retnadi Nur’aini yang pemilik dan pengelola Halaman Moeka. Tria Ayu Kusumawardhani beda lagi, Ayu sebutannya. Butuh teknik lain untuk mencantumkan nama Mbak Dee dan Dhyan di phonebook, lantaran nama kecilnya sama.

Berjejaring di internet merupakan tantangan tersendiri. Karena jarak yang rapat, inisial mirip, gaya bahasa beda tipis, dan menghafal id akun/avatar/foto profil cukup rumit, saya sering tertukar antara Melody Violine dan Mery Riansyah di Twitter. Men-tag juga rentan tergelincir. Mengetik nama Retno saja, lantas muncul nama Nui, Lala, dan nama lain yang mengandung kata “Nur”. Di situlah perlunya tidak buru-buru klik Ok. Padahal masih ada informasi untuk dicamkan lebih jauh. Beberapa kali saya ditanya apakah Fahmy Yamani, kembaran Femmy, itu perempuan. Waduh!

Rasanya wajar bila saya kerepotan menghadapi nama-nama samaran, apalagi yang panjang seperti UnyuSyalalaAkoohCicicuwitGedubragx.

Masih soal ejaan nama yang ruwet, kemarin Nui memastikan nama Hitchcock.

“Pukul si ayam jantan,” jawab saya.

Yah, anggap saja latihan menghafal nama karakter novel. Atau nama pengarang:D


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

2 Responses to “ Alex… Petrified? ”

  1. gravatar nung Reply
    May 17th, 2013

    Jadi inget pas kirim kopi, hihihi, salah nama harusnya berakhiran ono malah jadi berakhiran anto.

    • gravatar Rini Nurul Reply
      May 17th, 2013

      Untung nggak ada nama berakhiran itu di sini. Tetangga juga sering salah kok:D

Leave a Reply

  • (not be published)