Cara baca baru )

Ini bersumber dari pembicaraan saya dengan seorang kolega penerjemah dan editor. Menurutnya, bisa dikatakan kerja editan lebih ‘ringan’ dalam arti relatif cepat dibandingkan menerjemahkan. Menyunting rata-rata satu bulan per buku, sehingga honornya pun cair lebih cepat. Kami menimbang-nimbang merutinkan profesi ini pada suatu waktu. Relevansinya dengan arus kas saja, bukan besar pendapatan mengingat kompensasi editor lebih kecil ketimbang penerjemah.

Namun saya mengungkapkan padanya, bahwa saya pernah berpikir demikian. Dari segi teknis, bukan saja satu bulan itu sangat tentatif mengingat banyaknya perombakan yang harus dilakukan, tetapi juga otak yang jenuh. Mungkin seperti membaca saja, bagi orang yang tidak terlalu paham bidang ini, dan tinggal ‘leyeh-leyeh’ padahal tanggung jawabnya lumayan besar. Melototi KBBI dan tesaurus mondar-mandir membutuhkan ketabahan secara khusus.

Faktor ‘perintang’ lainnya adalah order penyuntingan belum bisa dirutinkan. Alhamdulillah sejauh ini saya mendapat job secara teratur menyunting terjemahan dari sebuah penerbit terkemuka, namun saya tidak berani mengklaim ‘kelanggengannya’. Selain itu, sangat bisa dimaklumi bila penerbit-penerbit makin selektif akan penerjemahnya dan berusaha sebisa mungkin memperoleh yang ‘sudah jadi’ sehingga dapat meminimalisir ongkos produksi, mencakup order editor outsource tersebut. Ambil contoh, Mas Agus yang semula mengkhususkan diri pada editor dan proofreader buku lokal (kadang-kadang terjemahan Arab). Loncatan proyek satu ke proyek lainnya berjarak cukup jauh, bahkan bisa beberapa bulan lamanya tidak menggarap editan apa pun.

Tulisan ini tidak bermaksud memadamkan semangat peminat profesi editor lepas, kendati beberapa kenalan penerbit menyampaikan secara jelas, tidak bisa memberikan jaminan order rutin kepada freelancer. Saya malah sedang melihat-lihat arsip lamaran dan tes, teringat beberapa penerbit yang biasa memberlakukan tenggat cepat untuk penerjemahnya. Karena saya tidak sanggup kejar-kejaran begitu, saya lebih berminat menjadi editornya saja:D


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)