Sewaktu baru berkenalan dengan ibu dua putri ini (dulu masih bekerja tetap sebagai editor suatu penerbitan terkemuka), imej yang melekat di benak saya adalah penerjemah thriller dengan jam terbang cukup banyak. Beberapa karya terjemahannya yang saya baca di awal kebanyakan berbau thriller. Pernah pula kami bertukar hasil tes di suatu penerbit (usai tes tentu saja) untuk belajar satu sama lain. Lolosnya Dhyan membuat saya kagum banget, walau kini penerbit itu jarang sekali menerbitkan thriller.
Di samping itu, bidang yang menurut saya cukup Dhyan kuasai adalah drama roman. Apalagi yang berkenaan dengan puisi. Pemilik toko OL Chic Distro dan lulusan Sastra Inggris ini lebih “nyastra” daripada saya, bahkan skripsinya mengangkat karya Toni Morrison karena Dhyan mengkhususkan pada Sastra Amerika. Berikut pertanyaan-pertanyaan saya yang dijawabnya di sela kesibukan sehari-hari terkait thriller, penyuntingan, dan penerjemahan.
Sejauh mana peran menjadi penerjemah dan editor dalam kepenulisan?
Besar sekali perannya. Menjadi penerjemah dan editor memungkinkan saya untuk membaca karya berbagai penulis dengan gaya tulisan masing-masing. Saya banyak belajar dari sana. Jadi bekerja sembari belajar.
Apakah ada perubahan antara sebelum jadi penerjemah full dan
sesudahnya?
– Pasti ada. Jadwal kerja berubah, motivasi juga berubah. Jadi lebih fokus, yang jelas.

Kalau menerjemahkan novel thriller atau horor, apakah sengaja
memilih waktu khusus supaya tidak terlalu “terbawa”? 

Kalau thriller, tidak pilih waktu. Saya tidak terlalu terpengaruh dengan cerita sadis, hehe. Tapi kalau horor kemungkinan iya (belum pernah nerjemahin horor). Barangkali saya akan lebih berani bekerja saat siang dan menghindari begadang malam. 😀
Bila ceritanya sadis dan berpotensi menimbulkan depresi, bagaimana kiatnya agar tidak terpengaruh dan stres?
Nggak ada kiat khusus sih. Tapi kalau sudah sangat menekan, ditinggalin dulu. Nyari udara segar, jalan-jalan, atau baca/nonton yang lucu-lucu. Kalau sudah fresh baru balik lagi ke kerjaan.
Dari semua judul yang pernah diterjemahkan dan/atau diedit, mana
yang paling berat? Kenapa? Boleh sebutkan tiga:)

– Satu naskah yang belum terbit, isinya berat karena bertema sufistis. Saya kudu tanya sana-sini agar tidak salah menangkap makna.
– Sebuah novel klasik yang tidak akan saya sebut judulnya. Dapat banyak kritik dari editornya. Itu di awal-awal saya mulai jadi penerjemah full. 😀
– Sebuah editan novel roman yang tidak dapat disebut judulnya. Karena nyaris seperti menerjemahkan ulang, hehe…
Dari semua itu juga, tolong sebutkan tiga yang paling disukai. Kenapa?
My Name is Memory. Saya sangat menikmati saat menerjemahkannya. Romantis, tapi nggak menye-menye. Ada cerita tentang reinkarnasi, sesuatu yang selalu membuat saya ingin tahu.
– Satu buku yang belum terbit (catatan: saya penyuntingnya, hahaha – Rinurbad). Saya menggemari penulisnya. Ada romantisnya, ada lucunya (yang bikin saya ngakak sampai mules), filosofis juga.
Shadow and Bone. Ceritanya asyik. Fantasi tapi tidak terlalu berat. Saya bener-bener terbawa dalam petualangannya.

Bila harus memilih antara klasik yang superpuitis dan filosofis
dengan novel horor yang tebal (berdarah-darahnya seperti tak
habis-habis), mending yang mana? Kenapa?
– Mmm, pilih roman yang ringan, puitis, filosofis, dan ada lucu-lucunya (haha… nggak sesuai opsi). Tapi… cenderung pilih klasik yang superpuitis dan filosofis.
Apa adegan tersadis dan paling mengerikan yang pernah dihadapi?
– Adegan tersadis dan mengerikan adalah adegan bapak yang melecehkan anak kandungnya sendiri. Bikin ngilu nerjemahinnya.
Adegan yang bikin tertekan sampai nangis sesenggukan adalah adegan seorang ibu yang balitanya meninggal karena sakit.

Ketika menerjemahkan roman, apa resepnya agar bisa menghasilkan
diksi yang puitis? Haruskah suka puisi juga?

– Suka sih nggak harus, menurut saya. Tapi mempelajari itu wajib. Juga sering2 baca novel roman.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)