Spesialisasi dalam profesi ini merupakan pilihan. Sah-sah saja mengkhususkan diri menjadi penerjemah fantasi, chicklit, politik, filsafat, atau nonfiksi. Demikian juga sebaliknya.

Sayangnya, masih saja ada kalangan tertentu yang menganggap penerjemah barulah “bergengsi” jika menggarap tema-tema yang “berat”. Genre populer dan ringan disebut-sebut tak perlu dilirik. Pendapat semacam ini cukup menyedihkan buat saya.

Saya bukan penggemar fantasi “garis keras”, meniru istilah anak gaul. Menikmati urban fantasy masih bisa, kalau sudah bertemu high fantasy langsung tertatih-tatih. Dari pengalaman bersentuhan dengan fantasi yang masih sedikit (pengalaman sayanya, bukan bukunya), sangat jelas bahwa genre ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Yang tipis sekalipun. Menghafal nama tokoh dan tempat yang kadang panjang-panjang, mencari padanan yang sebisa mungkin berterima, mengolah permainan kata, dan menerjemahkan puisi yang biasanya mengandung teka-teki. Simak pengakuan Ambhita Dhyaningrum.

Genre lain yang masih sering disepelekan adalah komik. Ya, saya pernah mengalami peras otaknya. Sejak itu, membaca komik dan novel grafis tidak lagi sama bagi saya. Sekarang ini komik semakin variatif, bahkan menjadi peranti mengantarkan tema-tema “berat” secara lebih cair semisal Sang Fotografer, Kartun (Non) Komunikasi, dan Buddha. Menerjemahkannya pun semakin menantang, seperti yang dialami Lulu. Walaupun tidak membaca aslinya, saya yakin kontribusi penerjemah tidak kecil sehingga Sepeda Merah dan trilogi Warna menjadi begitu indah. Saya suka membaca diksi yang melodius dan kalimat puitis, tapi ketika harus menghasilkannya sendiri, butuh waktu lumayan lama sambil memungut ilham sana-sini.

Oh ya, Mafalda yang bernapaskan politik itu juga komik lho.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

4 Responses to “ Apa pun Genrenya, Menerjemahkan Buku Itu Susah ”

  1. gravatar lulu Reply
    March 20th, 2014

    Setuju, RIn. Suka-dukanya berbeda-beda.

    • gravatar Rini Nurul Reply
      March 21st, 2014

      Iya Lul, seperti syuting yang berlainan cerita:))

  2. gravatar Debbie DN Reply
    April 6th, 2017

    Betul, Jeng Rini. Sampai-sampai, saya sering terkagum dengan para penerjemah lain (seperti Jeng Rinurbad, salam kenal ya…). Semakin banyak buku yang sudah saya terjemahkan/sunting, rasanya saya makin perlu buanyaaaak belajar :p

    • gravatar Rini Nurul Reply
      April 7th, 2017

      Salam kenal, Mbak Debbie:)

Leave a Reply

  • (not be published)