Ceritanya belajar

Definisi typo menurut grammar.about.com:

An error in typing or printing, especially one caused by striking an incorrect key on a keyboard.

An atomic typo is a typographical error (usually involving a single letter) that results in a word different from the one intended–prostate instead of prostrate, for example. Spellcheckers are unable to detect atomic typos.

Barangkali pendapat saya ini bias, selaku orang yang tahu sedikit ihwal ‘jeroan’ produksi buku. Saya menulis postingan ini karena teringat pertanyaan seseorang mengenai penerbit yang terkenal paling rapi suntingannya, tentu termasuk minimal typo-nya. Jawaban saya mungkin diplomatis, yakni relatif dan tidak bisa divonis. Harus diakui, ada beberapa penerbit yang, sependek pengetahuan saya, amat teliti dan cermat. Tetapi saya merasa tidak adil jika membandingluruskannya dengan kebesaran dan kepopuleran penerbit tersebut. Penerbit di Indonesia ini sangat banyak, bisa saja ada penerbit lain yang belum pernah saya ‘kenal’ baik masih baru atau memang terbatas jalur distribusinya serta saksama pula dalam ejaan dan pemeriksaan penyuntingannya.

Kembali pada penerbit yang tersohor rapi jali tadi, bukan berarti mereka ‘sempurna’. Ada saja temuan tiga-empat typo di beberapa buku (sebab satu-dua masih terbilang sedikit sekali) dan menurut saya, itu manusiawi. Seorang kolega penerjemah dan penulis pernah bertanya, “Apakah itu karena jadwal pengerjaannya tidak pernah diburu-buru?” Saya jawab, “Belum tentu. Ada juga yang relatif dekat tenggatnya. Di setiap penerbit, buku prioritas itu pasti ada.”

Semasa saya masih menjadi pembaca murni (dalam arti belum terjun ke perbukuan sebagai penerjemah dan penyunting), saya tergolong ‘Grammar Nazi’ atau yang masyhur dengan istilah lain dewasa ini, tipe konsumen pengidap Obsessive Compulsive Disorder. Sederhananya, pembaca rewel tingkat dewa. Komentar yang paling sering terlontar tentu saja, “Ini editornya ngapain sih?” Itu masih saya ucapkan meski telah membaca buku Menjadi Penerbit dan menyimak pengalaman para editor kampiun dengan segala jatuh-bangunnya.

Kemudian saya mendapat tawaran sebagai proofreader dan selebihnya, Anda bisa terka sendiri.

Pada hakikatnya, semua editor beriktikad baik menelusuri dan mengecek naskah-naskah yang akan terbit. Seorang relasi bercerita pada saya, selalu membaca hasil suntingan dalam tiga tahap guna meminimalisir typo. Mungkin ada batasan tertentu, yang tidak sama bagi setiap pembaca, untuk menilai typo yang terlalu ramai dan berlebihan serta yang masih bisa dimaklumi serta dapat diperbaiki di kemudian hari (misalnya ketika cetak ulang).

FYI, ada editor senior yang beranggapan bahwa typo adalah ‘dosa’ paling sepele dalam perbukuan.

Berikut kriteria typo yang termasuk ‘kelalaian serius’:

1. Kekeliruan ejaan yang sudah umum dan baku. Semisal, berkeras memakai ‘sekedar’.

2. Jumlahnya sangat banyak, katakanlah setiap halaman/alinea.

3. Sejak halaman pertama sudah muncul. Ini berbahaya, sebab bisa membuat pembaca enggan meneruskan, kesulitan alias terseok-seok menuntaskan sampai halaman akhir, dan/atau yang lebih gawat, melabeli penerbit ‘ceroboh’.

Di samping itu, ada risiko lain terkait buku terjemahan. Ada kalanya typo yang ada ‘disengaja’, dalam arti menerjemahkan dialek atau cara berbicara seorang karakter dalam cerita yang unik serta relatif sukar dialihbahasakan secara wajar. Bisa juga hasil pengolahan permainan kata atau pun. Idealnya, dilampirkan catatan singkat yang menjelaskan penyebab ini agar pembaca tidak salah paham.

Tulisan ini bukan pembenaran atau berniat defensif. Saya pribadi belum bersih seratus persen dari typo. Hanya saja, mudah-mudahan saya tidak lagi melontarkan, “Ini editornya ngantuk ya?” dan dugaan semacam itu.

 

 

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

2 Responses to “ Apakah Typo Akhir Dunia? ”

  1. gravatar Dita Reply
    December 11th, 2011

    rrr … aku suka deg-degan kalau baca ulang buku jatah hasil nge-proof. haha 😀

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      December 11th, 2011

      Hihihi, tanggung jawab besar ya, Dit. Tenang, aku sudah jinak:D

Leave a Reply

  • (not be published)