Suatu tahun ketika menonton Beverly Hills 90210 bareng Bapak, ada adegan Brandon terperosok di tebing kemudian (kalau tak salah) Dylan bertanya, “Are you OK?”

Bapak berkomentar, “Nggak sopan banget ya, udah tahu dia jatuh dan nyaris mati, masih ditanya kayak gitu.”

Ucapan Bapak terngiang terus ketika dalam penyuntingan dan penerjemahan saya bertemu kalimat tersebut. Jujur, setelah berkonsultasi dengan editor penanggung jawab, saya baru berani mengubah penerjemahannya agar lebih masuk akal.

Misalnya, dalam konteks seseorang yang ditanya temannya karena tiba-tiba jadi pendiam dan berwajah murung, saya terjemahkan, “Ada masalah?” Kali lain, dalam adegan seorang gadis yang tengah bersembunyi di belakang pintu dan pacarnya terdengar digebuki orang (disertai suara letusan pistol), tentu sangat ganjil berseru, “Kamu tidak apa-apa?” Saya ganti, “Ada apa?” atau “Apa yang terjadi?”

Jika kejadiannya sudah jelas, bertanya pada seseorang yang dihajar di depan mata, saya terjemahkan, “Lukamu parah?” atau “Kamu bisa bangun?” tergantung kalimat setelahnya.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)