Asyiknya menulis Cerita (Celia Warren)

Menggarapnya teramat menyenangkan (bukan berarti yang lain
tidak). Saya mendapat banyak masukan seputar penulisan fiksi:
mengumpulkan ide, menciptakan karakter, dan sudut pandang serta alur cerita.

Di halaman 12, terdapat contoh karakter bernama Grandpa Gregor. Sesuai sifatnya yang gaul dan suka mendengarkan musik di Mp3 player, saya mencari nama yang keren tapi berwibawa. Pilihan saya jatuh pada Alex, nama seorang teman yang menghubungi lewat telepon pada waktu itu.
Jadilah Kakek Alex umur 70 tahun, padahal teman saya jauh lebih muda:p

Lima halaman kemudian, saya menemukan frasa ‘Kenneth Grahame’s gentle,
friendly Reluctant Dragon
.’ Konteksnya simbol hewan dengan karakter berlawanan dari stereotipe. Berhubung penulis dan karyanya ini kurang familier bagi anak-anak Indonesia, saya menggantinya dengan ‘kera yang sakti dalam legenda Tiongkok, Kera Sakti’. Sebelumnya saya mempertimbangkan Hanoman, tapi ragu-ragu.

Siapa sangka, beberapa tahun setelahnya saya mendapat kepercayaan menerjemahkan novel karya Kenneth Grahame?:D

 

Asyiknya Menulis Surat

surat

Melihat pictorial book yang begitu ceria, saya bertambah semangat.
Mengetahui seri buku ini menyangkut tulis-menulis pun sudah memompanya ke level tertinggi. Saya bisa belajar tentang penulisan non fiksi untuk anak-anak dan menyerap suguhan penulis lebih dulu.

Tantangan pertama adalah penyesuaian jumlah karakter, agar sebisa mungkin muat dalam gambar-gambar mulai dari lingkaran, kotak, dan sebagainya. Saya sempat berkonsultasi dengan seorang kawan desainer grafis di sebuah majalah bergambar ibukota. Di situlah alotnya, sampai-sampai saya melupakan satu poin: mengubah beberapa hal bernuansa luar negeri dan mengadaptasinya agar dipahami oleh pembaca Indonesia. Masukan itu saya ingat benar untuk ketiga buku berikutnya.

Bahasan tentang surat terkesan tidak menonjolkan sesuatu yang baru, meski disertai topik email yang sekarang lebih ngetrend. Tetapi buku ini menjelaskan hal-hal yang perlu diketahui ketika menulis surat formal pula, termasuk ucapan terima kasih bila menerima hadiah yang kurang disukai. Hmm, itu sering terjadi pada saya. Boleh juga.

Topik yang lumayan memeras otak saya ialah Surat Rahasia (halaman 26). Asyik sebenarnya, orang dewasa saja suka pakai kode-kodean. Bisakah Anda menebak isi surat di bawah ini?

Pisang adalah buah Lena, siang hari ini temanku Leah dan aku tolong
tak akan bisa temui lagi segera. Jika Jul tidak ada lagi di rumah
seminggu, ke sumur!

Bagian favorit saya adalah penulisan surat fantasi. Seru membayangkan anak-anak (atau kita) menulis surat dengan pena bulu.

 

Asyiknya Menulis Puisi (Wes Magee)

puisi

Dari keempat buku, puisi adalah sesuatu yang benar-benar ‘baru’ bagi saya. Saya membaca naskah aslinya sambil belajar, dan manggut-manggut ketika menerjemahkannya. Bisa dikatakan ini buku yang paling sulit, mengingat saya tak pernah bersentuhan dengan puisi. Tahu haiku pun hanya sekilas, dari milis Apsas.

Adaptasi berlangsung pula di sini. Setelah konsultasi dengan editor,
saya mendapat pijakan bahwa puisi sekalipun tak boleh diubah. Maka saya harus bengong cukup lama ketika menyesuaikan puisi di halaman 8 (teks aslinya mengenai salju atau musim dingin) menjadi hujan, tetapi unsur lainnya tak boleh diganti. Tiap bait mengandung satu nama hari dan semuanya berima dua-dua. Contohnya sebagai berikut:

‘Hari Senin diguyur hujan
Air menggenang di semua saluran

Selasa, angin sungguh kencang
Mematahkan cabang-cabang’

Persoalan lain timbul kala saya menghadapi ‘clerihew’ (halaman 12).
Kalang-kabut saya mengubek wikipedia dan googling.

Saat tahu bahwa clerihew adalah puisi jenaka, saya ingin menangis. Menghasilkan teks bernada lucu sungguh tidak mudah, ditambah lagi clerihew mengandung aturan suku kata dan berima. Untuk mendapatkan ide pengubahan puisi, saya keliling-keliling
ruangan, bolak-balik ke depan dan belakang, kadang sambil loncat satu kaki. Begitu banyak usaha untuk memutuskan bahwa ‘naked’ diterjemahkan ‘hanya pakai baju dalam’.

Kendati demikian, banyak sekali yang saya pelajari dari naskah ini.
Keseluruhannya menarik. Salah satunya soal asonansi, seperti ‘Kucing kuning berkeliling di tanah kering’ (halaman 20).

 

Asyiknya Menulis Laporan

Menjenguk materi ini mengingatkan saya pada para keponakan, yang kerap mengeluh jika mengerjakan tugas sekolah berupa makalah, pidato atau laporan buku. Dengan tekad memenuhi kebutuhan mereka, saya berusaha menerjemahkan sebaik mungkin.

Buku karya Anne Faundez ini paling saya senangi karena topiknya
menyangkut penulisan non fiksi. Bukan berarti menerjemahkannya menjadi mudah seratus persen. Saya mengotak-atik Dangerzone menjadi Zona Rawan, Jones’ Journey Jeopardy menjadi Jebakan Jalan untuk Joni agar aliterasinya utuh, dan ‘wd like 2 c my band m’bers agn menjadi ingin btm anggota2 band sy lg. Cukup leluasa.

Editor kebanyakan melakukan sentuhan pada pemilihan nama-nama.
Misalnya Elsa Lidya menjadi Elsa Lukman, Johan Marga mungkin terdengar aneh sehingga diganti Juno Bim, dan klub olahraga Unggul menjadi Primajava. Di bagian lain, Mama dan Papa dikonversi jadi Ayah dan Ibu.
Panekuk dianggap kurang populer dan diubah menjadi ayam goreng.
Hal-hal seperti ini terkesan ‘sepele’ tetapi merupakan bekal penting di kemudian hari.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)