Jasanya tidak terhitung, walau mungkin PC di zaman sekarang sudah kalah glamor. Banyak sekali pekerjaan kami yang terbantu olehnya sejak tahun 2005. Suatu waktu kakak mudik dan membawa pekerjaan kantor, malam Minggu sibuk ketak-ketik juga dan mendapati… flashdisk pinjamannya rusak.

Karena keberadaannya, saya tidak panik tatkala Toshi, laptop pertama kami, menampakkan bluescreen akibat listrik byarpet. Dengan PC ini juga saya googling untuk kepentingan riset Virgin Mary, menyunting bergantian dengan adik dan ponakan, kemudian sempat kecapaian (karena tidak biasa) dengan monitor LCD yang baru.

Itulah hardware-nya yang pertama kali rusak berat. Monitor mula-mula patah bagian bawahnya ketika dibawa pindah kemari. Maklum, jalannya bergelombang. Modem sudah beberapa kali ganti, format jangan ditanya. Saya lupa persisnya tahun berapa monitor itu diganti LCD yang menghasilkan tampilan serba gepeng:D.

Kemudian printer-nya ngadat. Mulai dari minor sampai parah (cartridge-nya, terakhir kali). Setelah mejeng beberapa lama di pojok ruang tamu, printer berakhir di keranjang pengangkut sampah RT kami. Entah diapakan olehnya.

PC ini sempat pindah tangan ke kamar adik di Selatan sana, sebab ia sering membawa tugas kantor pulang. Belakangan malah jarang disentuh sebab si komputer mulai trouble. Koneksi internet sulit di rumah sehingga adik lebih sering ke warnet atau online di ponsel jika mendesak. Selama berada di tangannya, minimal dua kali PC opname di tempat servis.

Saat kami membuka jasa fotokopi kecil-kecilan, PC ini kembali dibutuhkan dan diboyong ke sana. Lumayan bermanfaat untuk menerima order ketikan dan rental pelajar. Bulan-bulan pertama error, perkiraan virus dan bisa ditangani. Kemudian tiga hari yang lalu Dik Asisten menelepon karena panik, seperti melaporkan pasien gawat darurat yang koma dan tidak sadar-sadar.

Kami bawa pulang, cek ini-itu dan mencoba semua langkah. Apa daya, PC ini tak kuat lagi. Minggu sore, 18 Desember 2011, ia resmi mengembuskan napas terakhir. Kami sedih? Tentu saja. Ia mitra kerja yang hebat dan tangguh. Kerusakannya sangat kronis sehingga kalau mau direparasi, biayanya setara dengan membeli yang baru. Enam tahun sudah cukup bagi sang PC, ia lengser dan akan digantikan oleh PC yang semula digunakan Mas Agus bekerja di rumah.

Jadi, dua kali selamat jalan. Selamat jalan dan beristirahat untuk PC ini, selamat jalan juga Jakobson (nama PC yang dipakai Mas Agus) berikut LED-nya.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

2 Responses to “ Au Revoir, Notre Ordinateur ”

  1. gravatar iman Reply
    December 20th, 2011

    turut berbela sungkawa, rin. tapi jeroannya kayaknya masih bisa dimutilasi dan dimanfaatkan (eufemisme dari: dipreteli dan dijual) 😀

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      December 20th, 2011

      Terima kasih, Kang Iman. Insya Allah sarannya diperhatikan:D

Leave a Reply

  • (not be published)