Penulis: Aliazalea, Anastasia Aemilia, Christina Juzwar, Harriska Adiati, Hetih Rusli, Ika Natassa, Ilana Tan, Lea Agustina Citra, Meilia Kusumadewi, Nina Addison, Nina Andiana, Rosi L. Simamora, Shandy Tan

Penyunting: Tim editor GPU

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, April 2013

Tebal: 232 halaman

 

Covernya rupawan, itu jelas. Judulnya mengundang, memang. Ilustrasi dalamnya pun cantik. Nama-nama kontributornya, dan tentu saja konten, faktor utama yang membuat saya betah membaca sampai rampung. Seperti apa para editor menulis, misalnya. Di sinilah kesempatan menikmati kisah romansa pedih karya Mbak Hetih Rusli, untaian kalimat mengharu-biru ala Mbak Rosi L. Simamora (penerjemah trilogi Warna-nya Kim Dong Hwa), juga karakter kekasih yang “selalu ingin tahu” bersematkan tren Instagram yang disuguhkan Meilia Kusumadewi (penerjemah novel grafis Sepeda Merah).

Poin keren buku ini adalah cerpen-cerpen beralur cepat. Kalimat pembukanya penuh energi, membetot dan langsung mengalir. Sependek pengamatan saya, begitulah ciri khas metropop. Genre yang memberi ruang bagi pembaca usia dewasa muda hingga dewasa dengan bauran problematika sehingga terasa realistis. Cerita-cerita dunia kerja, contohnya, membuat saya teringat sejumlah film komedi romantis dan novel metropop yang pernah saya baca.

 

Berikut ini yang saya favoritkan, bukan berdasarkan urutan:

1. Critical Eleven (Ika Natassa)

Judulnya mengingatkan saya pada film thriller atau laga. Kendati cerpen ini sarat kalimat berbahasa Inggris, keasyikan membaca tidak berkurang. Temponya berderap. Dialog-dialognya mengesankan, antara lain:

[sws_blockquote_endquote align=”” cite=”” quotestyle=”style01″] Terkadang aku justru rindu perasaan bosan, Le. [/sws_blockquote_endquote]

(hal. 91)

 

[sws_blockquote_endquote align=”” cite=”” quotestyle=”style01″]Di tempat yang paling seru sekalipun, kita pasti punya batas kebetahan di situ. [/sws_blockquote_endquote]

(hal. 92)

 

[sws_blockquote_endquote align=”” cite=”” quotestyle=”style01″]Hati itu bisa disetel kayak AC, Nya. Kalau dulu lo terlalu cepat hangat sama orang -bukan berarti setelah lo pernah sakit dan setelah gue bilang jangan terlalu cepat pakai hati-AC hati lo itu langsung lo turunin serendah-rendahnya. Lo tuh udah kayak freezer sekarang. [/sws_blockquote_endquote]

(hal. 96)

[sws_blockquote_endquote align=”” cite=”” quotestyle=”style01″]… lamanya satu menit itu berbeda bagi orang yang sedang sesak napas kena serangan asma dengan yang sedang dimabuk cinta. [/sws_blockquote_endquote]

(hal. 97)

 

2. Perkara Bulu Mata (Nina Addison)

Ini salah satu cerpen berbintang lima. Judulnya keren, sampai kalimat penutupnya juga istimewa. Saya tidak bingung meski memakai POV beberapa orang dan sadar bahwa cinta bisa berawal dari hal yang sangat “remeh”. Penghayatan dan perwatakannya jempolan.

 

3. The Unexpected Surprise (Nina Andiana)

Tema yang diangkat relatif berbeda, cinta kasih dalam drama keluarga. Adegan-adegannya seperti hidup di pikiran saya. Dengan rentang waktu relatif pendek selaku latarnya, alur yang jauh dari lambat apalagi menjemukan, jadilah cerpen yang segar.

 

Selebihnya bagus-bagus juga, dengan cara tersendiri. Ada yang mengemas kejutan, ada yang meluncur ringan, ada yang puitis melankolis, ada yang memakai sudut pandang lelaki dan membuat saya tergelak-gelak.

Gue heran, kenapa cewek suka banget ngasih pilihan-pilihan nggak masuk akal. Pilih lembur atau nge-date? Pilih dia atau rokok? Lha, buat bayar nge-date di restoran pakai dui apa kalau nggak pakai honor lembur? Dan kenapa cewek suka merendahkan diri ke harga sebelas ribu sebungkus?

(Jack Daniel’s vs Orange Juice – Harriska Adiati, hal. 62)

Kalau kata seorang teman baik, ini namanya, “A very jleb quote.”

Setiap cerita mengandung keakraban, mudah menikmatinya. Kadang ada sisi diri saya sendiri dalam beberapa karakter. Belum lagi beberapa judul yang “mencorong” sehingga terbukti cerita cinta bisa diolah sejeli mungkin dan tidak begitu-begitu saja. Terus terang, biodata singkat penulis pun tidak saya lewatkan karena suka pilihan informasi dan cara menuturkannya.

Menarik sekali bila ada konsep kumcer seperti ini lagi.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)