koreksian

Koreksi proof salah satu editan suami dari PIC

Setelah lima tahun vakum, beberapa waktu lalu saya berkesempatan menjadi proofreader lagi. Kali ini novel terjemahan dan buku aslinya berbahasa Inggris. Sama dengan ketika menangani naskah terjemahan dari bahasa Arab dulu, peran saya dibatasi untuk mengecek konsistensi dan mencermati typo.

Kalau sedang membaca buku untuk bersenang-senang dan merasa “digerumbuli” typo, rasanya enteng saja menandai dan mencatatnya (jika mau). Tetapi ketika membaca naskah printout hasil setting, banyak hal yang harus diperhatikan. Salah satunya kebiasaan saya kala dipercayai bahan cetak oleh klien: menjaga kebersihan tangan. Terlipat sedikit halamannya tidak mengapa, tapi kalau ada noda minyak atau tertetes minuman rasanya tak enak hati. Kemudian menceburlah saya dalam langkah-langkah selanjutnya, bagaikan mencari batu dalam beras. Dan batunya sering kali kecil.

Benarlah kata suami, sewaktu menyunting dan mengoreksi naskah sebaiknya hindari larut dalam cerita. Kesampingkan keinginan menikmati cerita yang kerap menimbulkan kelengahan. Apalagi namanya naskah sudah lewat tahap edit berlapis, rata-rata sudah mulus. Bila ingin membaca dulu, bisa dilakukan terpisah. Memungkinkan sekali karena tenggat dari editor cukup panjang, sekitar dua minggu untuk mengecek 300-an halaman.

Selain catatan selingkung editor yang adakalanya berbeda dengan editor lain (bukan hanya beda penerbit) sebagai panduan, segala peralatan perlu dikerahkan. Spidol warna apa saja, post-it, notes, memo di HP, asal ingat di mana menaruhnya. Sesuai yang diajarkan para proofreader, saya menulis kata yang “diragukan” berikut nomor halamannya untuk dicari kemudian di KBBI cetak. Memori membaca buku sejenis di penerbit tersebut bisa jadi andalan, tapi alangkah baiknya dikonfirmasikan pada editor bersangkutan. Katakanlah, “Pakai shock atau “terguncang” dan padanannya saja?”

Dalam salah satu postingannya, Lulu “mempertanyakan” pernyataan Shakespeare ihwal nama. Terkait proofreading, nama juga penting. Tepatnya, nama tokoh. Bayangkan jika nyaris tiga perempat buku Anda baru sadar bahwa nama salah satu karakter yang sering muncul ternyata beda satu huruf! Harusnya Lauren malah tertulis “Laurent”. Mau tidak mau kembali ke muka untuk cek baris demi baris. Di sinilah perlunya sekali-sekali membaca keras, atau memeriksa dengan jari. Teknik Pak Hernowo Hasim yang diajarkan salah satu editor kenalan saya.

Repot? Ya memang. Nekat mengerjakan pengecekan ini saat mengantuk atau mata lelah bisa berbahaya. Proofreader adalah gawang terakhir, ketelitianlah senjata nomor satunya. Tidak jarang di salah satu penerbit, menurut cerita seorang relasi, proofreader in house begitu cermat sehingga mampu menemukan kejanggalan terjemahan atau tulisan. Biasanya dikembalikan pada editor untuk dirombak lagi. Namun ini kasuistis, tidak semua penerbit demikian.

Kesimpulan saya sejauh ini: proofread lebih berat daripada menyunting. Baca ulang benar-benar harus lebih dari sekali.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

PREVIOUS ARTICLE

NEXT ARTICLE

4 Responses to “ Baca Ulang Sekali Saja Tidak Cukup ”

  1. gravatar lulu Reply
    June 7th, 2013

    Kadang bingungnya jadi proofreader suka “gatel” pingin ngedit juga :p Tapi klo udah mulus emang enak banget ya, Rin. Sering bikin terlena.

    • gravatar Rini Nurul Reply
      June 7th, 2013

      Iya, Lul. Tapi kalau diedit lagi, kapan kelarnya?:))

  2. gravatar Brahm Reply
    June 8th, 2013

    Jangankan proofreader, Teh, menulis saja aku belum sreg kalau belum baca ulang sampai tiga kali. Niatnya selain untuk reputasi sendiri sebagai penulis, juga untuk meringankan beban “anggota tim” lainnya, i.e. first readers, proofreaders dan editor. 🙂

    • gravatar Rini Nurul Reply
      June 8th, 2013

      *plok plok plok*:)

Leave a Reply

  • (not be published)