Dalam suatu kesempatan, saya sempat berdiskusi dengan salah satu awak redaksi penerbitan yang kerap dikritik pedas (calon) pembaca karena kebijakan sensor. Penerbitan lain yang seatap dengan kantor beliau ini juga memberlakukan sensor meski lebih ringan, namun entah kenapa tidak disorot setajam itu.

“Mengabaikan” buku-buku populer yang tren dan laris di luar negeri untuk diterjemahkan di sini tentu bukan langkah supertepat dari kacamata industri. Bagaimanapun, penerbit memiliki kepentingan komersial agar dapat tetap hidup. Di sinilah risiko timbul. Karena harga buku impor sudah lebih terjangkau (di samping e-book hasil download yang mudah didapat), pembaca gampang membandingkan dengan versi aslinya kemudian mengetahui penyensoran tersebut. Memang jika sudah terjadi, tak akan dilonggarkan pada cetakan berikutnya. Namun celetukan-celetukan soal “tidak perlunya sensor” tak ayal membuat mata gatal juga.

Idealnya, sikap yang sesuai kebijakan sekaligus “memanjakan” ketertarikan konsumen bisa berjalan seiring. Praktiknya, jelas susah sekali. Dalam diskusi lanjutan dengan editor di atas, saya mengusulkan buku-buku yang “aman” saja dalam arti tidak membutuhkan sensor. Toh, menggunting dan memoles itu membutuhkan energi dan putar otak yang tidak ringan. Jadi andai memperoleh buku-buku yang “bersih”, beban redaksi serta tim yang terlibat berkurang.

Ada beberapa temuan mengenai blog dan kelompok baca luar yang mengkhususkan buku-buku seperti itu. Memang tidak seratus persen “bersih”, tapi minimal adegan “seramnya” tidak eksplisit dan relatif minim. Kendala lain, ternyata buku-buku anak dan praremaja yang ternyata menjurus kekerasan (ini tentu saja relatif tergantung sudut pandang dan prinsip pembaca), atau topiknya malah lebih berat dan cocok untuk dewasa atau remaja. Fokus tetap diarahkan pada penghindaran adegan 17 tahun ke atas sebagai prioritas. Selebihnya, mau tak mau, jadi PR tambahan. Ini diamini seorang kolega penerjemah dan editor. Beliau menggarap buku fantasi yang termasuk daftar “aman” kelompok acuan tadi, padahal menurutnya lumayan sadis. Hanya saja plot cerita dan pesannya jelas sehingga tidak berkesan buku “umbar kekerasan”.

Jujur, saya sering heran dan cengar-cengir mendapati komentar yang seakan menyatakan “Tidak apa-apa ada adegan mesra, tapi cincang badan dan pembunuhan sadis ditiadakan dong”. Belum lama ini, redaksi penerbit tadi memutuskan tidak membeli right penerjemahan sebuah novel yang cukup terkenal. Alasannya, bahasa karakter utama yang mendominasi cerita sangat kasar. Sukar dihaluskan, dan jika dilabeli buku dewasa, lebih banyak lagi polemik yang timbul.

Selektivitas genre seperti yang saya usulkan ialah hasil pengamatan dari sebuah penerbit besar yang berkebijakan mirip dengan penerbit tempat kolega bekerja tadi. Dengan kecerdikan dan pengalaman, tentunya, sensor kecil-kecil pun tak ketahuan. Ada lagi yang saya sarankan, karya-karya penulis yang tidak ada versi bajakannya. Satu penerbit, meski tidak seluruhnya, saya amati jeli mengambil langkah ini. Para penulis novel yang mereka terjemahkan, apa pun genrenya, rata-rata rajin menyusuri jejak pembajakan dan bila terjadi penghalusan atau sensor, amanlah sudah:)

Tulisan ini buah pikiran saya sendiri, tidak mewakili pendapat penerbit mana pun.

 

 

 

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)