Selalu ada alasan untuk menyatakan pekerjaan menyunting, yang memang dari sananya sudah sulit, menjadi tambah sulit. Tanpa bermaksud membawa dewa-dewa seperti sitiran kalimat Stephen King yang memancing pro dan kontra itu.


Terjemahannya kurang lancar.
Saya tidak dapat memperkirakan persentase, sebab sejatinya semua penerjemah pernah mendapati frasa/kalimat yang sulit dipecahkan bagai kode rahasia saja. Tapi satu hal yang saya sibak belakangan, penerjemah senior bukan jaminan mulus seratus persen. Banyak faktor yang memengaruhinya, antara lain selera pribadi terhadap tema buku tersebut.

Keharusan menerjemahkan ulang. Meski tidak sering, adakalanya  satu-dua alinea atau kalimat belum diterjemahkan. Yang tragis apabila terjemahan itu terlewat berhalaman-halaman.

Keharusan membandingkan kata demi kata, serta kalimat demi kalimat dengan buku aslinya. Salah satu penyebabnya adalah jebakan jalan tol. Ini mengesahkan editor sebagai pencuriga profesional:D


Buku sumber yang berat.
Rimbun idiom, panen puisi, tebaran aliterasi, hanya beberapa di antaranya, selain hamparan data yang membutuhkan catatan kaki (atau catatan akhir) dan menuntut pengecekan secara online. Padahal jika tak menabahkan hati, mencebur ke dunia maya bisa berlama-lama dan memboroskan waktu.

Kendati demikian, menurut saya, yang lebih meledakkan isi kepala adalah editor naskah asli. Tanpa bermaksud menyamaratakan semua penulis, ini risiko belaka mengingat pekerjaan yang sudah nyaris ‘sempurna’ kecil kemungkinan diorderkan kepada outsource.

Salah satu aspek pencipta kendala kerja editor karya asli adalah komunikasi dengan penulis. Sah-sah saja penulis ingin mengetahui sejauh mana ia keliru, porsi yang diubah atau diganti, namun kadang kesibukan masing-masing menghambat kelancaran kerja dan terjadilah penantian panjang.

Jalan keluarnya satu: kerjakan saja, dan berharap segera selesai.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

2 Responses to “ Bagaimana dengan Editor’s Block? ”

  1. gravatar Ririen (Saptorini) Reply
    January 26th, 2011

    Haha… tagline-nya “Tak kan lari deadline dikejar” oke banget, unik, mengundang tawa sekaligus provokasi utk cepat menyelesaikan pekerjaan. Ai laik it!

    • gravatar Rini Nurul Reply
      January 26th, 2011

      Terima kasih, Mbak Ririen:) Ya, memang seharusnya kita yang berlari. Deadline takkan pindah tempat.

Leave a Reply

  • (not be published)