Belum selesai artinya masih digarap, jadi belum tentu pula terbit dalam waktu dekat.

Bukan satu-dua kali saya mendapat wejangan dari editor in house bahwa sangat tidak dianjurkan mengutip kalimat terjemahan/editan yang sedang dikerjakan di tempat umum. Katakanlah di blog, milis, atau forum lainnya. Ini bersentuhan dengan etika. Bila sampai bocor, alamat riskanlah posisi buku yang belum dicetak tersebut. Mengapa bisa begitu?

Bukan satu-dua kali pula saya menemukan petikan kalimat dalam diskusi dan dalam hitungan detik bisa mengetahui judul dan pengarangnya lewat Google. Jelas, ini lampu merah bagi penerbit buku bersangkutan. Pesaing mendapat gambaran transparan mengenai buku yang akan diterbitkan (dengan tindak lanjut yang tidak perlu saya rinci di sini), hingga langsung melakukan langkah-langkah ‘antisipasi’. Lebih-lebih, seperti kata seorang kolega editor in house, jika bukunya nonfiksi. Mudah sekali ‘menduplikasinya’ dengan buku lokal.

Mungkin karena itulah, ada beberapa penerjemah dan penyunting yang enggan mendiskusikan pekerjaan di tempat umum (baca: dunia maya) ketika menemui kesulitan. Namun bagaimana menyiasatinya? Harus mau repot-repot, katakanlah nama tokoh (jika fiksi) diganti, menggambarkan konteks belaka (meski cara ini pun sudah saya coba dan tetap bisa ditebak), atau lainnya.

Pikir punya pikir, ada untungnya juga menerjemahkan buku ‘tidak terkenal’ baik dari segi topik maupun nama pengarangnya. Insya Allah tidak mudah digali di Google:D

Postingan ini mengingatkan saya pada satu pengalaman unik. Seperti apa? Akan saya tulis di postingan berikutnya.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

PREVIOUS ARTICLE

NEXT ARTICLE

Leave a Reply

  • (not be published)