Sewaktu saya menyusun skripsi dulu, salah satu dosen pembimbing menyarankan agar sebisa mungkin meminimalkan referensi dari internet di daftar pustaka. Pemahaman mengenai hal ini terjadi berangsur-angsur, alias tidak seketika. Saya waktu itu hanya berpikir bahwa informasi di internet lebih mudah dan relatif lebih murah untuk diperoleh ketimbang berburu buku rujukan telaah bahasa Prancis.

Sewaktu mulai aktif ngeblog dan menulis buku, saya menyadari betapa mudahnya tautan informasi lenyap atau rusak. Itulah sebabnya buku-buku berjenis how to kerap harus diperbarui, atau apabila mencantumkan referensi online, perlu menyertakan keterangan tanggal berapa informasi tersebut diakses.

Lambat laun saya mulai kesulitan membaca tulisan di dunia maya, semata alasan fisik (baca: mata). Saya menikmati kembali, alhamdulillah, membuka lembaran kertas yang gemeresik dan menelusuri huruf-huruf cetak. Walau bukan kebiasaan baik, hobi saya baca sambil baring-baring rasanya lebih nyaman bila memegang yang berbentuk cetak.

Kemudian belakangan, saya membaca beberapa buku mengenai bisingnya internet yang bisa memicu stres dan berdampak kontraproduktif. Ini senada dengan pernyataan akan tingginya penetrasi masyarakat kita ke internet sekarang. Dan menurut sejumlah artikel, inilah yang disebut information overload atau mengutip istilah Alvin Toffler dalam buku Future Shock, infobesity.

Kemudahan dan melimpahnya informasi menimbulkan masalah lain: ruwetnya memilah sumber yang tepercaya. Saya belum menemukan jurus yang “jitu” untuk itu. Cukup mengenaskan karena Google yang dulu jadi andalan (sekarang pun masih, sebenarnya) sudah diselubungi “data” yang subur dan membingungkan. Contoh kecil saja, saya menemukan kesamaan plekjiplek suatu artikel di beberapa blog. Bisa dikatakan lebih dari lima blog yang memuat artikel tersebut tanpa menyebutkan sumbernya, walau mungkin saja salah satu blog itu memang “pemilik” postingan asli. Keraguan tersebut membuat saya batal share artikel tadi di suatu grup FB.

Pikir punya pikir, akhirnya yang “manual” bisa jadi alternatif dalam kondisi semacam ini. Memang akses buku kadang terbatas, apa yang kita cari belum tentu ada, dan sebagainya. Namun barangkali, inilah saatnya “pulang” ke membaca buku cetak, ke perpustakaan, jalan-jalan ke toko buku bekas, membaca isi lemari yang tadinya hanya teronggok. Bukan berarti internet tidak layak dijadikan sumber referensi, tetapi lebih baik tidak memayoritaskan atau mendominankannya.

Catatan: saya tidak tahu apa istilah IT-nya, tapi sebelum menulis postingan ini, dibuat kaget oleh sesuatu. Saya memasukkan kata kunci yang sama persis untuk menemukan satu artikel waktu googling sekitar dua jam lalu, ternyata artikel yang saya maksud sudah terendam dan sukar ditemukan. Padahal tadinya ada di hasil pencarian pertama…

Alangkah derasnya banjir informasi ini.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)