Sebagai dua orang yang berlatar belakang kultur berbeda, saya dan Mas Agus berusaha menjembatani jurang komunikasi kami dengan menggunakan bahasa Indonesia.

Tak urung, karena lingkungan kami heterogen (atau bilingual tradisional ya?) serta terbiasa berbahasa Jawa dan Sunda sehari-hari, bahasa Indonesia kami ‘kalah’ juga. Paling sulit mencapai kesepakatan soal kata ‘bau’.

Suatu hari, Mas Agus datang ke warung fotokopi kami lalu mencium aroma penyegar ruangan yang dipasang Dik Asisten. “Bau naon, yeuh?”

Otomatis, Dik Asisten merasa tidak enak hati. Maka saya jelaskan padanya, di mata Mas Agus, ‘bau’ bisa saja berarti ‘harum’.

Kemudian saya wanti-wanti juga Mas Agus, “Hati-hati lho, bagi orang Sunda, ‘bau’ itu artinya ‘tidak sedap’ atau ‘busuk’. Nggak ada tuh, eta kembang bauna meni seungit.”


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

One Response to “ Bau ”

  1. gravatar Fauzi Atma Reply
    December 16th, 2011

    Bau mengalami perluasan makna. Seharusnya yang dipakai aroma ya, Mbak? Bau dan wangi menjadi bagian dari aroma itu.

Leave a Reply

  • (not be published)