Sebenarnya berat hati saya menulis sesuatu yang relatif bersifat personal. Memang ini kaitannya dengan pekerjaan, tapi telanjur saya anggap pribadi karena memengaruhi penilaian terhadap orang bersangkutan (baca: saya benar-benar menjaga jarak dengan orang tersebut, enggan bekerja sama lagi). Ini bukan pengalaman tidak mengenakkan yang pertama kalinya, sih.

Kemarin saya bercakap-cakap dengan seorang kolega, yang ujung-ujungnya mengungkit persoalan lama dan sangat ingin saya lupakan dengan seorang penulis. Saya berusaha biasa saja dan semata berpikir: Ini toh pelajaran, karena saya salah memercayai orang dan semoga ke depannya tidak terulang. Ternyata obrolan selintas yang terasa tidak kenapa-napa semalam muncul menyakitkan saat saya bangun pagi ini.

Saya mencari-cari bukti tertulis yang masih tersimpan di hard disk berupa rekaman chat. Sempat ragu sebab laptop sudah beberapa kali format ulang dan kemungkinan arsipnya lenyap. Tapi di situlah keajaiban Gmail (maaf, bukan iklan). Ternyata chat di Gtalk masih utuh di Archive dan lengkaplah obrolan singkat hari itu, persis setahun silam yang membuktikan suatu tindak kecurangan. Seperti biasa, bila emosi mendorong-dorong, saya tergerak ke Twitter dan hendak menulis curhat yang mungkin ‘menggemparkan’ tapi sebenarnya tak ada gunanya. Toh persoalan itu sudah ‘tuntas’ dalam arti pihak terkait telah dihubungi dan dilapori. Salah-salah malah saya diberondong pertanyaan relasi dan follower atau ada yang mengira saya menyindir.

Kata orang, dalam keraguan ada setan. Kata saya, keraguan menunjukkan ada yang salah. Maka saya hapus ‘calon status’ itu dan langsung dibayar kontan oleh Allah, menemukan sesuatu yang membahagiakan di jejaring sosial yang sama.

Komentar pembaca tentang terjemahan When God was A Rabbit

Mungkin ini sepele bagi pelaku penerjemahan lain, tapi bagi saya sangat berarti. Pengalaman berharga pagi ini, bahwa memang benar, yang harus ditaklukkan dan dilawan (kalau bukan menyebut ‘musuh’) adalah diri sendiri.

Alhamdulillah.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

PREVIOUS ARTICLE

NEXT ARTICLE

4 Responses to “ Bayar Kontan ”

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      December 9th, 2011

      Makasiiih ^_^

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      December 9th, 2011

      Alhamdulillah…:D

Leave a Reply

  • (not be published)