Berikut ini cover aslinya, yang menurut saya sangat mencerminkan nuansa Timur Tengah dengan warna-warna pasirnya.

Sumber gambar dari sana

Seperti yang tampil di situ, sudut pandang novel perdana Andrea Busfield ini diambil dari kacamata seorang anak lelaki berusia sekitar 11 tahun [saya mengeditnya dua tahun lalu, jadi sudah agak lupa]. Namanya Fawad. Nama yang menyentuh hati saya karena sama dengan nama putra seorang sahabat kami yang sedang lucu-lucunya waktu itu.

Meski dirundung problema yang khas dan mungkin pernah ditemui di buku-buku berbau Timur Tengah lain, latar novel ini bukan di Afghanistan. Fawad dan ibunya telah bermukim di Amerika. Perguliran gegar budaya, pertemanan mereka yang kadang janggal dengan orang-orang asing menjadi bahan pengisahan yang menarik disimak. Sebagaimana kebanyakan bocah masa kini, Fawad menyimpan aneka pertanyaan, keingintahuan, yang tidak selalu bisa dijelaskan dan dibimbing oleh sang ibu meski mereka cukup dekat.

Di mata saya, Born Under A Million Shadows menyuguhkan porsi yang seimbang. Fawad dengan keluarga kandung dan teman-temannya sesama Asia tetap memiliki konflik tersendiri, demikian pula terkait hubungannya dengan Georgia dan kawan-kawan dari benua lain yang berusia jauh lebih tua. Kedewasaan Fawad tampak ketika ibunya mulai bergaul dengan pria yang menyukai wanita itu, tapi ada kalanya ia terguncang menghadapi hal-hal yang sulit dicerna.

Proses penyuntingannya memakan waktu sekitar empat bulan.

Yang paling saya ingat, unsur romansa mengharukan di salah satu bagian cerita.

Ini cover edisi terjemahannya, bagi saya sangat cantik:)


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

2 Responses to “ Behind The Book: Born Under A Million Shadows ”

  1. gravatar Dinda Pit2 Reply
    June 1st, 2012

    Udah ada ditoko buku kah mbak?

    • gravatar Rini Nurul Reply
      June 3rd, 2012

      Eh, ada Dinda. Maaf, komentarnya terselip…
      Udah ada, Din:)

Leave a Reply

  • (not be published)