Sewaktu melihat cover aslinya, saya sudah jatuh cinta. Kemudian saya sempatkan membaca satu-dua bab awal, langsung tergetar oleh versi Inggris terjemahan Margaret Sayers Peden ini. Judul bab pertamanya, The Land of Snow and Ice. Terdengar fantasi sekali, bukan? Namun ada yang lebih dari itu.

The Buddhist monk named Tensing and his disciple, Prince Dil Bahadur, had been climbing in the high peaks north of the Himalayas for many days, a region of eternal ice where no one but a few lamas had ever ventured. Neither of the two was counting the hours, because time did not interest them. The calendar is a human invention; time does not exist on the spiritual level, the master had taught his student.

Dikutip dari sana

Semua itu sudah cukup untuk membetot semangat saya menyunting terjemahan Fanny. Ah, bukan, tepatnya saya seperti membaca saja. Saya tidak terobsesi volume (demikian istilah Nur Aini), asyik menyimak bab demi bab karena murni ingin tahu kelanjutannya.

Mengenai penerjemahan Margaret ke bahasa Inggris tersebut, berikut penuturan Isabel Allende yang saya nukil juga dari wawancara di webnya:

Q. Do you write in Spanish?

A. I can only write fiction in Spanish, because it is for me a very organic process that I can only do in my native language. Fortunately, I have excellent translators all over the world.

Q. Do you work closely with your translator? I notice that Margaret Sayers Peden has translated most of your books into English.

A. Margaret and I are always in touch; I believe we have a psychic connection. She does a splendid job. I do not dream of correcting her! In most other languages, however, I don’t even know who translates my work. The publishers take care of that. Margaret retired in 2010 and now my translator into English is Anne McLean.

Tanpa mengecilkan City of Beasts selaku pembuka seri Jaguar and Eagle ini, saya lebih menyukai Kingdom of Golden Dragon. Tentu selera personal berperan, terkait spiritual dan India yang membubuhkan citarasa berbeda dalam buku fantasi petualangan ini. Terbukti bahwa fiksi remaja dengan olahan tertentu, yang cerdas dan menghibur pula, tetap bisa mengedukasi dan menebarkan banyak pesan berharga.

Di bawah ini beberapa di antaranya:

“How many times have I told you not to believe everything you hear? Seek truth for yourself.”

“But I don’t want more things than I need, either.”

“Of all fragrances, the sweetest is that of virtue.”

“The fear is not real, Dil Bahadur; it is only in your mind, like all other things. Our thoughts form what we believe to be reality.”

Yang makin saya syukuri, koreksi editannya sudah berkurang ketimbang buku perdana. Antara lain:

– Kurangi terlalu banyak “itu” dengan memakai “tersebut” jika memungkinkan.

– Kurangi pengulangan “mereka”, bisa diganti dengan menyebutkan nama, atau sebutan “keduanya”, “ketiganya”, dll.

– Batasi penggunaan kata “bahwa”, “sebuah” (atau tidak sama sekali), dalam satu kalimat. Cukup satu.

Untuk kesekian kalinya, terima kasih banyak atas kerja sama seru ini, Fanny dan Mei:) Kabar sudah saya terima berikut cover jauh sebelum terbitnya, yakni tanggal 19 Maret 2012 ini. Jadilah hadiah ulang tahun perkawinan kami yang ke-11:)


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

3 Responses to “ Behind The Book: Kingdom of the Golden Dragon ”

  1. gravatar Uci Reply
    March 9th, 2012

    Wow covernya seruu!

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      March 10th, 2012

      Alhamdulillah, aku diajak diskusi juga soal cover ini. Makasih ya:)

Leave a Reply

  • (not be published)