Penulis: Matthew d’Ancona

Penerjemah: Fahmy Yamani

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Sinopsis:
Kau punya kekasih baru.
Ada kamar terkunci di rumahnya.

Dia memintamu berjanji untuk tidak masuk ke sana.
Apakah kau akan menepati janjimu?Ginny terlalu penasaran.

Namun, yang dia temukan malah menimbulkan pertanyaan baru:

Rahasia mengerikan apa yang disembunyikan kekasihnya?

 

Saya masih ingat, Mbak Editor penanggung jawab sepertinya geli ketika menyampaikan bahwa untuk kedua kalinya, saya menangani hasil terjemahan Fahmy Yamani. Ia mengerjakan buku ini sekitar setahun silam, sehingga samar-samar ingat sebagian ceritanya. Toh, Fahmy tidak mau membocorkan ketika saya mulai penasaran.

Komponen kedua selain genre thriller yang membuat saya kerasan sekali menyuntingnya, profesi karakter sentral yang penulis. Bukan penulis buku umum, apalagi fiksi. Ginny Clark justru hendak membukukan tesis, hasil penelitiannya akan aneka dongeng yang sesungguhnya menyimpan daya teror dan memengaruhi psikologis anak-anak selaku pembaca/pendengar sejak lama.

Selain itu, karakter pasangannya bernama Harry. Entah mengapa, saya teringat Harry dan Ginny dalam Harry Potter, tanpa bisa menerka maksud implisit pengarang jika memang ada. Tentu saja sosok yang dibayangkan sangat jauh berbeda.

Kelamnya cerita terbangun dengan baik dalam fiksi berjenis drama thriller ini. Ada bagian yang mendirikan bulu roma, sehingga terus terang saya tak pernah mengerjakannya malam hari kendati itu sangat membantu penghayatan kisah. Namun kalau diingat-ingat, saya belum pernah membaca thriller yang seperti ini. Sepi yang khas, plot tidak cepat tapi juga tidak lambat, mengundang pertanyaan terus-menerus dan menghadirkan sudut pandang berbeda dibanding novel kriminal pada umumnya (unsur itu hadir pula di sini).

Bisa diterka bahwa dari jumlah halamannya yang tidak terlalu tebal, karakter yang disuguhkan sedikit. Mengolah karakter sedikit agar tetap penting, membolak-balik rasa penasaran, menurut saya butuh kemahiran khusus. Jadilah, seperti pengakuan penerjemahnya, saya menikmati sekali cerita dari awal sampai akhir sambil terus menebak-nebak “biang keroknya” dan apa yang terjadi.

Sama dengan Fahmy, favorit saya adalah Sean Meadows. Kemisteriusannya kadang membuat sedih. Seperti Sean, saya pun berpikir bahwa jarang berinteraksi tidak merugikan, bahkan menjadikan saya tetangga yang tidak merepotkan bagi orang lain. Ternyata pendapat orang belum tentu demikian.

Ini suntingan yang termasuk cepat terbitnya, karena baru digarap sekitar Ramadhan kemarin. Senang sekali sebab subjudul usulan saya dipakai:D


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)