TNP

Sewaktu saya mulai menyunting, buku pertamanya sudah menjelang terbit. Namun dari sekilas lihat-lihat di Amazon, cerita tidak terlalu berkaitan sehingga saya tidak perlu membaca buku sebelumnya. Dan ini kali kedua saya bertemu romantic thriller. Tak urung dihinggapi pertanyaan juga, sepertinya yang menulis genre ini kebanyakan wanita. Apakah mereka lebih ahli beromansa? Entahlah.

Menyunting novel Cindy Gerard ini, saya makin percaya tak ada yang namanya kebetulan. Kebanyakan, paling tidak. Nyengir-nyengir karena nama karakter protagonis prianya, Sam Lang, mengingatkan pada nama depan yang sama di novel editan lain sebelum ini. Untung agak berjarak sehingga tidak tertukar-tukar. Kesamaan lain, novel tersebut juga diterjemahkan pria. Ada pengalaman baru dan tantangan tersendiri menyelami gaya penerjemah pria, bagi saya.

Take No Prisoner, yang termasuk seri Black Ops, ini mengandung banyak adegan laga. Napas Spanyolnya kental, saya harus berkonsultasi dengan editor mengenai tanda baca yang unik. Juga apakah kalimat-kalimat tertentu perlu dibubuhi terjemahannya atau tidak. Karena mengedit bersebelahan dengan istri, kami sempat tarik-tarikan pedoman selingkung yang sengaja dicetak untuk mempermudah kerja. Kalau saya tinggal sejenak untuk keluar rumah, istri duduk di depan komputer saya dan melanjutkan suntingan satu-dua halaman sembari membaca.

Persamaan lain dengan editan sebelumnya tampak ketika hampir rampung. Ada elemen hukum, meski tidak sebanyak yang dulu. Ini mengasyikkan. Juga potret psikologis seorang tertuduh yang terpaksa menceburkan diri dalam dunia hitam. Cindy Gerard yang sudah menjadi nenek itu secara mengagumkan menampilkan kisah yang hidup dan seru. Senang rasanya mengetahui dari milis harlequin, bahwa pembaca meminati seri ini dan bukunya akan diterjemahkan semua oleh GPU.

Singkat kata, Take No Prisoner membuat saya makin “biasa” mengedit seri meski bukan dari buku pertama.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.