Given enough time and distance, the heart will always heal.

Semula, saya lebih tersedot pada nama penerjemahnya daripada sinopsis dan tema buku yang ditawarkan Mbak Editor dua tahun silam ini. Betapa tidak, saya menyunting terjemahan Bu Rahmani Astuti! Salah satu senior kawakan yang sempat bercerita dengan gaya tutur mengasyikkan di buku Tersesat Membawa Nikmat, ditambah waktu itu saya baru membaca hasil alih bahasa beliau: Little Women (terbitan Serambi) yang sangat memesona. Deg-degan dan keringatan jadinya, sehingga saya hanya menceritakan proyek ini pada beberapa kawan dekat.

Sebelumnya saya pernah menerjemahkan buku Iran, hanya saja belum terbit sampai tulisan ini dibuat. Ternyata untuk menyunting Veil of Roses, tidak perlu riset berat. Saya tinggal berfokus pada terjemahannya. Cerita yang relatif ringan, mengenai gadis Iran yang mengikuti kakaknya pindah ke Amerika sesuai cita-cita orangtua. Latar belakang politik ditampilkan samar-samar.

Sudah jelas, benturan budaya yang mencuat dalam cerita. Karakter wanitanya bingung kendati sudah mempelajari bahasa Inggris dan terbilang terpelajar. Selain itu, proses pencarian jodoh yang tetap berlandaskan tradisi tanah air menjadikan cerita berwarna dan lucu. Saya tersenyum-senyum pada satu bagian, ketika

Spoiler Inside SelectShow

Secara umum terjemahan lancar dan saya menyunting bagai bersenang-senang. Suatu hari, listrik mati dan hujan petir cukup lama. Untuk memanfaatkan waktu, mumpung masih siang, saya membuka pintu dan menyunting dengan netbook. Kalau tidak salah, pengerjaannya selesai dalam tempo dua bulan.

Veil of Roses adalah novel yang cukup ‘wanita’, kendati menuai sedikit pro dan kontra.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)