Sekitar akhir bulan lalu, jaringan internet saya tewas selama sepuluh hari. Ajaibnya, saya tidak merasa terlalu ‘menderita’. Cukup melakukan tindakan semestinya, melapor ke CS kemudian menggunakan internet cadangan untuk sekali-sekali mengecek email atau urusan penting lainnya.

Selama itu, saya disadarkan bahwa begitu banyak kegiatan kontraproduktif yang saya lakukan karena koneksi internet relatif lancar. Dengan dalih riset, saya browsing sana-sini, ber-youtube (sungguh pintar cari alasan ya saya ini), dan berbalas komentar di sosmed (yang kalau ditilik ulang, mayoritas tidak ada hubungan dengan pekerjaan). Okelah, saya bergantung pada Google. Tapi sekali terdistraksi (bukan karena mandi, ada tetangga datang, dipanggil suami dll), kok sulit ya menemukan ‘jalan yang benar’ dan kembali ke tujuan awal?

Ini persoalan klise yang berulang, cukup memalukan kalau saya tidak kunjung belajar. Tapi seperti biasa, saya butuh ‘tamparan’. Meski tidak relevan benar, di sinilah saya mendapatkannya:

Sometimes it’s hard to know when you’ve crossed the line from conscientious to compulsive. When you’re in the thick of an assignment, it’s easy to believe that you must spend so much time brainstorming, researching, writing, testing, revising or what-have-you. Often, it’s only after you’ve been working for hours on end that you realize that half the work you’ve been doing wasn’t actually necessary and that you’ve just wasted a lot of time.

Sebelumnya terima kasih, Dita, atas tautan bermanfaat tersebut.

Saya menerapkan resep Kang Iwok Abqary, mematikan internet saat butuh konsentrasi penuh. Alhamdulillah naskah kali ini tidak memerlukan banyak googling, dan kalau memang perlu, saya tandai dulu kemudian cek nanti sambil edit ringan dan tidak lirik kanan-kiri sebelum target tercapai hari itu. Skala prioritas ini termasuk mengubah setting ponsel ke Silent setidaknya sampai jam sembilan pagi. Apa pasal? Pagi adalah waktu paling produktif bagi saya, selain sore dan usai Maghrib (ini seringnya gagal karena ngantuk).

Alhasil, saya bisa mengerjakan 10 halaman sehari. Kalau beruntung, dalam arti babnya lancar dan tidak perlu banyak cek kamus, bisa 15-20 halaman sehari. Ini pernah sangat sukses ketika saya menggarap City of Masks beberapa bulan silam. Semestinya dijadikan kebiasaan, seperti metode  Mbak Poppy yang dikenal dengan sebutan ‘jadi makhluk gua selagi bekerja’. Perasaan menyelesaikan target lebih banyak dan/atau lebih cepat, katakanlah jam 8 pagi sudah dapat 10 halaman, tak bisa diungkapkan dengan kata-kata:D

Menjawab judul posting, bagaimana rasanya hiatus/hibernasi? Baik-baik saja, tuh:)

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

12 Responses to “ Bekerja (Nyaris) Tanpa Internet, Bagaimana Rasanya? ”

  1. gravatar Linda B Reply
    December 14th, 2011

    Makasih atas ‘tamparan’nya mba…soalnya saya lagi kena penyakit akut bernama “procrastination” hehehe…(maklum holiday season, kebawa suasana)

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      December 14th, 2011

      Sama-sama, Mbak Linda:)
      Ceritanya sih lagi berusaha lebih disiplin, walau tidak berarti kaku.

  2. gravatar iwok Reply
    December 14th, 2011

    hihihi … kadang saya sendiri suka bandel Rin, masih nyalain internet pas lagi nulis. hasilnya langsung jeblok. Semalam harus tega matiin internet, alhamdulillah dapat 4 halaman. horeeee…. ^^

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      December 14th, 2011

      Hehehe, iya Kang. Tetap ada bedanya. Saya kepinginnya selingan itu bukan dengan online berlama-lama, tapi banyak gerak minimal jalan ke dapur. Faktor U sudah tak bisa dimungkiri:D

  3. gravatar Dita Reply
    December 14th, 2011

    Hehe sip sip. Bagiku, cara lain yang cukup membantu, browser harus bersih dari extension macam FB, twitter dll biar gak ada yang suka nongol-nongol 😀

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      December 14th, 2011

      Betul Dita, add-ons di browserku juga sudah di-uninstall semua:D

  4. gravatar Desak Pusparini Reply
    December 14th, 2011

    Saya ikut “tertampar”, tapi tertampar yang ini menyenangkan dan menyadarkan 😀
    Wah, saya selama ini banyak “tersesat” rupanya 😀
    Makasih Mbak Rini, sudah berbagi cerita….

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      December 14th, 2011

      Sama-sama, Mbak Desak:)

  5. gravatar lulu Reply
    December 14th, 2011

    yap, kalo menjawab pertanyaan rini di judul, ternyata kerja tanpa internet ga masalah ya. pas awal2 nerjemah ketika belum pasang internet di rumah, aku masih buka-tutup kamus. malah, jumlah halaman yg berhasil dikerjakan dalam sehari lebih banyak dulu #eh

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      December 14th, 2011

      Ah, Lulu memang jeli. Aku sedang bernostalgia sekaligus bertanya-tanya mengapa dulu para senior kawakan, termasuk yang sudah mendiang, itu tidak tergantung internet tapi hasil terjemahannya aduhai bagus-bagus nian:D

  6. gravatar Meggy Reply
    December 15th, 2011

    Setuju banget, mbak. Internet memang kadang malah jadi distraksi. Tapi sekarang aku yg lagi kena problem internet bermasalah,
    Duh..sengsaranya, apalagi terjemahannya banyak butuh mbah Google huhuhu.. Jadi repot luar biasa, karenan banyak kata yg gak
    ada di kamus manual. :'(

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      December 15th, 2011

      Hai, Mbak Meggy, gimana kalau ditandai dulu untuk ditelusuri kemudian? Saya kadang pakai Google di HP kalau sangat terpaksa, sebab rumah jauh dari warnet.
      Semoga jaringannya segera pulih, ya.:)

Leave a Reply

  • (not be published)