Uni Eva dan Mbak Esti

Uni Eva dan Mbak Esti

 

Seperti ucapan Uni Eva Nukman ketika dipersilakan Uci selaku pemateri pertama di acara berbagi kemarin, menyajikan topik untuk peserta pelatihan yang heterogen bukan hal mudah. Saya sendiri bukan peserta yang baik, dalam arti mencatat sedetail dan setekun beberapa teman. Hanya mengandalkan ingatan yang makin buruk dan daya dengar yang makin mudah terdistraksi.

Uraian Uni Eva memperjelas kesadaran saya akan perlunya berlatih dan mengasah kemampuan, alias tidak mudah puas dengan yang dikira sudah dimengerti. Beliau salah satu yang berperan besar ketika saya masih merintis karier, belajar dari teks-teks nonfiksi karena itulah yang saya kenal lebih dulu dalam konteks penerjemahan (kalau membaca, memang fiksi yang saya akrabi). Belakangan saya “mengenal” Uni Eva lewat karya-karya bukunya yang diperuntukkan pembaca anak.

Bahasan beliau cukup luas dan beragam, mulai dari syarat-syarat menjadi penerjemah yang baik, “tabu” untuk editor, sampai ucapan/kutipan yang masih membuat saya ternganga karena rasanya belum terlaksana… sebelum menerjemahkan satu buku, sebaiknya baca 100 judul. Glek. “Apakah untuk menerjemahkan satu buku, sudah ada 5 buku yang kita baca?” Ada sih, asalkan yang dibaca itu beberapa halaman saja:p

Tidak lupa, Uni Eva menyertakan contoh-contoh alih budaya dalam bahasa Inggris dan Jerman, kosakata yang kelewat gaul, dan soal terjemahan yang perlu disunting serta bukan kepalang susahnya. Kenapa susah? Rupanya karena kami rata-rata belum sarapan, atau perlu ngemil. Atau kurang tidur sehingga lesu dan sukar berkonsentrasi. Yang paling saya ingat, beliau bilang, “Bahasa Indonesia bukan hanya milik orang Jakarta dan Bandung.” Lebih jauh beliau mencontohkan, “Banyak orang Sunda sering memakai kata “menyimpan”. Sedangkan buat orang Sumatra, “menyimpan” berarti “menyisihkan”, menaruh di tempat tertentu untuk digunakan kemudian.” Saya sendiri masih harus berpikir, selaku orang Sunda, apa saja “menyimpan” yang kerap digunakan itu. Atau lihat langsung di terjemahan saya kapan-kapan.

Beberapa contoh kasus alih budaya itu sangat menarik. Antara lain dari komik Tintin, yang mengandung adegan mengonsumsi alkohol secara permisif. Penerbit Amerika keberatan, dan setelah melalui diskusi, Kapten Haddock digambarkan (begitu pula dialognya) “haus” saja. Demikian pula kisah seorang anak yang sanggup menjunjung kuda. Di suatu negara, saya lupa tepatnya, diganti menjadi kuda poni supaya lebih masuk akal.

Salah satu poin anjuran untuk editor yang lumayan menohok buat saya, “jangan mengurangi ketelitian hanya karena nama penerjemah.” Harus diakui, belum tentu hasil kerja yang mampir ke meja itu sama “sempurnanya” sebab bisa saja digarap sekian tahun silam ketika penerjemah bersangkutan baru memulai atau masih mencoba genre baru. Banyak pula faktor lainnya. Tapi menanyakan nama penerjemah yang saya sunting hasilnya, memang sudah jadi semacam “tradisi” pribadi sih:p

Uni Eva mengaku tidak jarang honor penyuntingan yang dilakukannya (atau menyunting ulang) lebih tinggi daripada kompensasi penerjemah. Meski keterbacaan hasil terjemahan sangat perlu diperhatikan, dalam kasus tertentu prinsip yang berlaku adalah garbage in, garbage out. Bila gaya tulis pengarang kurang lancar dan melelahkan sehingga berdampak pada penerjemahannya pula, itu bukan tanggung jawab penerjemah.

Dalam sesi tersebut, sempat disinggung ihwal penerjemahan puisi yang menurut Uni Eva wajib berima. Karena ini erat pula dengan pengkhianatan selaku salah satu teknik menerjemahkan, beliau berpesan, “Berkhianatlah hanya jika harus.” Ibu Maria Sundah mengutip pendapat Pak Sapardi Djoko Damono, bahwa idealnya penerjemah puisi haruslah penyair karena biasanya harus menghasilkan puisi baru. Tanpa bermaksud mendebat perkara rasa bahasa dan kepuisian, saya pribadi berpendapat itu tidak harus. Untuk naskah fantasi misalnya, yang hampir semua mengandung puisi, banyak penerjemah yang mampu menangani sendiri kendati mereka bukan penyair.

uci

 

Uci, sang moderator

Seusai rehat makan siang dan ngobrol-ngobrol ringan, giliran Mbak Esti memperkenalkan Mizan guna meminimalkan kekeliruan masyarakat akan lini dan imprint yang ada. Lalu bergulirlah cerita dan tanya-jawab lewat pertanyaan tertulis dan lisan. Mbak Esti menegaskan bahwa salah satu faktor pertimbangan buku yang dibeli copyright-nya untuk diterjemahkan adalah tren. Pembahasan selingkung juga cukup mendalam, kendati sekarang editor dan penerjemah lepas belum memiliki panduan baru. Mizan didukung tim proofreader yang datang ke kantor dan lumayan “fanatik” akan selingkung. Datang ke kantor merupakan syarat mutlak guna memperlancar komunikasi. Di samping itu, penerjemah yang diharapkan sedapat mungkin hasilnya mulus sehingga tidak perlu diedit besar (seingat saya, Mbak Esti menyebutnya “edit digital”). Bagaimanapun, membayar editor lepas naskah terjemahan berpengaruh langsung pada komponen harga buku. Belakangan ini, saya pun lebih sering mengerjakan editan naskah lokal di Mizan. Tapi seru juga, kok, melihat pertumbuhan kepenulisan kita:)

Dengan gaya khas beliau yang santai tapi komprehensif, Mbak Esti memaparkan sejumlah teknik dan “kisi-kisi” dalam bekerja. Umumnya, penerjemah Mizan (setidaknya di Qanita) diberi tes naskah klasik. Materi yang penuh jebakan, butuh kecermatan, utamanya akan konteks. Mbak Esti juga senang bila penerjemahnya jujur akan bagian-bagian yang dianggap meragukan. Bila penerjemah bersangkutan bertanya mengenai beberapa hal, Mbak Esti menandai bagian itu di naskah agar diteliti lebih lanjut saat diedit. Menurut beliau, bisa dirasakan bedanya penerjemah yang menulis panjang-panjang karena “suka bercerita sendiri” atau memang semangat menambahi karakter, dengan penerjemah yang demikian lantaran terbawa mood dan hanyut dalam cerita. Ini relevan dengan anjuran Uni Eva untuk tidak segan-segan menggunakan kalimat efektif kendati mengurangi jumlah karakter, sebab lambat laun penerbit akan tahu dan kita berisiko tidak diorder lagi.

Istilah baru yang saya peroleh dari Mbak Esti kemarin: “buku mulia”, yaitu “buku yang masuk toko, langsung mati syahid.”

Apakah setelah mengikuti diskusi bermanfaat ini kinerja saya akan membaik? Mari tanyakan pada kamus yang bergoyang.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)