Sumber gambar: bones wikia

Sebelumnya, saya acung jempol untuk Janet Lin, penulis skrip episode 4 Season 5.

Di samping hiburan, niat saya menonton terus film seri ini (bahkan mundur ke Season yang bolong alias dibeli belakangan) adalah belajar melatih pendengaran. Sebagaimana tes TOEFL yang pernah saya tempuh, daya tangkap saya lewat kuping kurang tajam jika terkait akademis dan semacamnya. Saya tengah membiasakan diri dengan aksen-aksen tertentu, idiom, dan semacam hobi baru… daripada jadi Grammar Nazi, lebih baik belajar mengira-ngira padanan ketika menemukan kalimat dialog atau ungkapan.

Lambat laun, rasa betah saya berkembang dan mencermati unsur-unsur penceritaan seri ini dari sudut pandang lain. Seperti membaca buku, nonton pun bisa jadi bahan inspirasi menulis. Tepatnya, belajar dari contoh yang baik menurut selera pribadi. Yang paling menonjol adalah perwatakan. Alur Bones selalu cepat dan sayang kalau berkedip dikarenakan semua karakternya penting dengan porsi masing-masing. Semua punya latar belakang, konflik, yang dikaitkan dan dimunculkan bergiliran membentuk cerita yang harmonis dan asyik diminati. Itu keistimewaan penulis skripnya.

Masih soal perwatakan, pelajaran saya bertambah menyangkut penokohan yang tidak hitam putih. Di episode Beautiful Day in the Neighbourhood, contohnya. Korban tewas adalah seorang warga yang cinta lingkungan. Dia memasang kincir, sebagaimana terlihat di foto di atas, sebagai energi alternatif sepertinya… dengan risiko diprotes tetangga lantaran suara kriet-krietnya yang mengganggu. Saya sendiri pernah mengalami meski kincir buatan tetangga dulu tidak sebesar ini.

Suatu hari, kincir mahal tersebut dikencingi anjing tetangga. Si pemilik berang, kemudian anjingnya diracuni dengan pencahar. Ditengarai tewas, dan tentu saja empunya anjing tidak terima sehingga layak jadi tersangka.

Menarik juga menghadirkan tokoh semacam itu, peduli lingkungan ternyata tidak menjamin peduli ketenteraman tetangga. Apalagi ramah pada binatang.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)