Catatan: remaja di sini, menurut salah satu teori psikologi, sampai rentang usia 21 tahun. Ada lagi teori psikologi perkembangan yang menyebutkan sampai usia 24 tahun.

Dulu saya mengira kalau anak-anak (baca: ponakan) sudah besar dan bersekolah, tinggal santai dan ongkang kaki saja.
Ternyata saya keliru. Memang mereka tidak lagi perlu disuapi, dimandikan, dan dituntun ke mana-mana. Tapi setelah kuliah pun, masih ada yang suka nongkrongin kami bekerja dan bertanya kenapa begini kenapa begitu. Ada yang heboh mengajak ngobrol tentang gadget anyar (yang dilihatnya di iklan), ada yang begitu masuk SMA hobi berpakaian nyentrik sehingga ketika jalan dengannya ke mal berdua saja saya dikira jalan sama brondong. Kali lain, keponakan cowok yang biasanya bawel diam saja di mal yang ramai. Ketika ditanya, katanya, “Mumet aku, banyak amat yang cantik ya di sini. Aku kuliah di Bandung aja ya?”
Punya keponakan banyak juga berarti belajar lagi macam-macam mata pelajaran dan mata kuliah agar bisa membantu mereka mengerjakan tugas, minimal menerangkan sesuatu (padahal mah lieur). Mondar-mandir membujuk yang “rajin diet” untuk makan, dan yang paling penting: mendengarkan. Benar-benar mendengarkan tanpa menyela, karena kalau nonton talkshow atau sejenisnya di TV pun, saya langsung pindah saluran apabila presenternya memotong ucapan narasumber berulang kali.

Saya belajar mendengarkan keponakan yang hafal segala kabar infotainment, curhat kegalauan bikin skripsi, dan belajar tidak menertawakan selera musik mereka. Panduan saya hanyalah novel-novel dan film drama keluarga yang ada di rumah, termasuk sebagian yang saya garap dalam konteks pekerjaan. Sekalipun ini fase pergolakan hormon yang sering mengejutkan, mendampingi remaja mengajari saya agar tidak bawel dan berlatih menahan diri. Misalnya meleluasakan mereka tidur nyaris terkapar di depan TV setelah mengetik skripsi sekian jam (terbayang otaknya pasti butuh dipijat) dan menjawab pertanyaan, “Kudet itu artinya apa sih?”

Semasa mereka masih kecil-kecil, khususnya balita, saya memang bawel kalau mereka mendekati komputer dan peralatan kerja lainnya. Tapi sekarang karena kadang laptop saya pinjamkan untuk online, keponakan bebas duduk di meja kerja saya dan membaca apa saja yang saya kerjakan.

Serunya lagi, beberapa ponakan yang paling akrab adalah sesama anak tengah atau anak kedua. Jadi punya tempat becermin:D

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)