Apa pun pekerjaan Anda, masih mahasiswa pun, tentu tahu atau sering mendengar bahwa memecah tugas menjadi bagian-bagian kecil lebih memudahkan penggarapannya.

Saya termasuk yang memercayai itu, terutama sewaktu menerjemahkan. Bahkan jadi semacam kebiasaan.

Begini urutannya, meski tidak saklek. Semua langkah terpenuhi jika waktunya memungkinkan.

  1. Membaca cepat buku yang jadi materi.
  2. Membaca ulasannya, biasanya opsional.
  3. Membaca latar belakang penulis/pengarang berikut proses kreatifnya. Ini termasuk poin wajib bagi saya.
  4. Mengintip sedikit bukunya yang lain. Kalau ada di lemari saya, atau lihat-lihat di Amazon/cuplikan di web penulis.
  5. Sembari melakukan semua ini, khususnya langkah pertama, saya buat catatan pendek mengenai perkiraan kesulitan/apa yang harus diriset. Tingkat kesulitan tertinggi berciri harus banyak mengecek kamus online/Google. Biasanya berlaku untuk buku berbahasa Prancis.
  6. Menerjemahkan tanpa “ditemani” internet. Kata-kata sukar, termasuk idiom, saya tinggalkan dulu berupa titik-titik. Kalau tidak lupa, saya tandai di naskah atau saya tulis tangan di buku untuk dicari artinya kemudian. Cara ini saya tempuh agar terjemahan kasar dapat selesai lebih cepat tanpa distraksi. Pasti banyak typo dan sebagainya, tapi halaman yang lekas bertambah setiap hari membuat pede saya naik dan suasana hati baik.
  7. Didiamkan minimal setengah hari, lalu mulai mengubek rujukan cetak dan maya. Bila banyak istilah yang menuntut googling bolak-balik, saya catat dengan tulisan cakar ayam. Belum disiplin betul masalah ini, tapi lumayan membantu sehingga ke depan akan lebih diusahakan.

Di sinilah saya merasakan manfaat mengerjakan bahan cetak, kendati repot dan sebagainya. Bila materinya PDF pun, saya bersedia mencetak dulu agar tidak menatap monitor melulu. Selain itu, bahan cetak lebih mudah dipilah-pilah dan dibagi. Satu bab selesai, kertasnya lempar dulu ke dus di kolong demi keuntungan psikologis. Otomatis harus ditata kembali sewaktu mengecek ulang dan melihat-lihat kamus sambil baca akhir.

Keberhasilan “sepele” tercapai ketika mencari letak kata yang masih berupa titik-titik di komputer dan menemukannya di naskah asli. Ini bisa sangat membosankan karena sudah membaca bahannya berulang kali, sekalipun suka cerita/isinya. Saya sudah siap manyun dan terseok-seok bila titik-titik di Word tampak banyak di satu halaman. Umumnya di bagian yang merupakan kelemahan saya: deskripsi.

Tapi jika titik-titik yang perlu diisi itu hanya satu-dua dan berjarak, saya girang sekali. Padahal bisa jadi idiom yang tidak ada di kamus dan butuh penerkaan/ngelamun berjam-jam. Saya bertepuk tangan dan jingkrak bila bisa menemukan kata yang dititik-titik itu di naskah asli dengan cepat. Artinya, tidak perlu membaca kalimat satu demi satu. Mungkin ingatan saya tidak seburuk yang disangka:))

Caranya? Sederhana saja. Membaca kalimat awal alineanya, lalu serahkan pada mata. Tentu yang segar dan cukup tidur:)

Omong-omong, saya pakai perumpamaan “mencari belalang di pohon rimbun” karena bosan dengan “mencari jarum dalam jerami”.

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)