Sewaktu ditunjuk menjadi editor kumpulan cerpen komedi cinta ini, saya terus terang ragu-ragu. Pengalaman saya terbatas, hanya pernah beberapa kali terlibat antologi Gradien bergenre sama. Cerpen saya itu tidak lucu-lucu amat, pula. Yang ini misalnya, masih ber-aku ria, karena saya tidak biasa ber-gue elu. Ada kawan yang tak menyangka saya bisa berbahasa gaul dalam kompilasi Menemukan Impian Hati. Ketidaksengajaan berbaur unsur kisah nyata pula yang ternyata membuat seorang teman lain bisa menganggap lucu Curhat Ibu-ibu.

Syarat awal yang saya ajukan, hanya menjadi penyunting dan tidak ikut tim penyeleksi. Pasalnya, selera humor saya berbeda dengan garis besar haluan penerbit beserta napas buku-buku Komedi Cinta Blogfam sebelumnya. Hal lain yang meringankan pekerjaan ini adalah bantuan Kang Iwok merapikan sedikit format naskah, juga pemikiran bahwa urusan lucu dan tidak merupakan ‘tanggung jawab’ penulis-penulisnya. Jelaslah bahwa saya tidak perlu mengoprek banyak. Jangan sampai ada penulis protes, “Yah, kalimat gue diganti sih, jadi garing.”

Mayoritas penulis yang lolos seleksi ini merupakan pemain baru. Kejutannya, rata-rata sudah rapi. Jauh lebih rapi dibandingkan pengalaman saya berurusan dengan naskah lokal dulu-dulu. Saya hanya bolak-balik bertanya pada beberapa teman dan editor untuk menyeragamkan “elo”, “lo”, “elu”, serta “gua” dan “gue” yang bertebaran supaya konsisten. Mudah-mudahan tidak banyak yang terlewatkan.

Di samping itu, menariknya kumcer ini adalah cinta tidak melulu dengan pasangan/taksiran/gebetan. Ada juga antara anak dan ibu.

Diskusi yang sempat terjadi dalam proses mengeditnya adalah penentuan judul. Setelah usul sini-situ dengan para modi Blogfam, diputuskanlah diambil dari salah satu cerpen. Judul cerpennya Kebelet Kawin, Emak! tapi diubah satu huruf demi kemudahan mengingat ketika sudah terpajang di etalase.

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)