Penulis: Laurie Faria Stolarz
Penerjemah: Abdullah Ali
Penerbit: Q-Press
Tebal: 402 halaman
Cetakan: I, Mei 2005

Mimpi buruk selalu menghampiri Stacey, yang diakhiri dengan ngompol.
Ia melihat maut mengancam Drea, teman sekamarnya. Stacey tak mau
mengabaikan hal itu setelah di masa lalu gagal menyelamatkan Maura,
gadis kecil yang diasuhnya. Rasa bersalah menghantui Stacey meskipun
mimpinya tidak mengandung informasi yang jelas. Ia berusaha mencegah
bahaya dengan kemampuan sihir yang diwariskan neneknya.

Drea menerima telepon-telepon gelap dan hadiah misterius, antara lain
bunga lili yang dikenal sebagai lambang kematian. Persoalan bertambah
ruwet karena Drea mengetahui kedekatan Stacey dengan Chad, mantan
pacarnya. Diam-diam Stacey memang menaruh hati pada pemuda itu dan
Chad pun sebaliknya, namun demi persahabatan ia berusaha
menyangkalnya.

Intaian maut kian membayang sebab orang yang diduga menguntit Drea pun
melakukan hal yang sama pada Veronica Leeman, teman seasrama mereka
yang juga menginginkan Chad. Stacey sendiri mulai mencurigai pemuda
idamannya itu, berdasarkan beberapa petunjuk. Bersediakah Drea
mendengarkan Stacey demi keamanannya sendiri?

Penggambaran mimpi-mimpi buruk Stacey cukup baik. Napas horor hanya
ditiupkan oleh kepenyihiran Stacey. Secara keseluruhan Blue is for
Nightmares menyajikan cerita thriller yang mengingatkan saya pada film
Scream. Sayang, banyak halaman berganda dan penjelasan penerjemah
dengan kata-kata serapan yang dipaksakan terasa memusingkan. Misteri
penguntit Drea akan jauh lebih mengasyikkan bila kualitas alih
bahasanya diperbaiki.

Skor: 3/5


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

PREVIOUS ARTICLE

Leave a Reply

  • (not be published)