Sumber: flixster

Menonton film sepanjang 2 jam 45 menit sungguh menguji kesabaran, apalagi di tengah godaan demam film seri yang bikin ketagihan dan jatuh-jatuhnya jadi lama juga:D

Tapi anehnya, belakangan ini film-film Ethan Hawke punya daya giur sendiri buat saya. Kepingin tahu apakah dia lagi-lagi jadi penulis, misalnya. Ternyata tidak. Dia jadi ayah yang sulit bertanggung jawab secara finansial terhadap anak-anak (mungkin itu akibatnya cerai) karena profesinya yang tidak prospektif yakni seniman musik. Uniknya, Boyhood tidak menampilkan Mason Sr ini selaku ayah yang lalai atau menimbulkan cibiran. Satu-dua kali ada perbedaan pendapat dengan Olivia (Patricia Arquette), sang mantan istri, namun lebih mirip pertentangan suami-istri biasa.

“You don’t want the bumpers. Life doesn’t give you bumpers.”

Dengan mudah, saya larut dalam sudut pandang Mason Jr (Ellar Coltrane) yang berkembang selama 12 tahun untuk keperluan syuting film ini. Sering kali terbukti, anak-anak lebih tegar daripada dugaan orangtua ketika perceraian terjadi. Mereka masih menghargai upaya Olivia untuk memberikan kehidupan yang lebih baik, utamanya di rumah. Dalam proses itu, kesalahan tak terelakkan saat sang ibu keliru memilih pasangan dan lagi-lagi bercerai. Tapi Mason dan Samantha, sang kakak, tidak menyalahkannya. Tidak pula menyudutkan Mason Sr. Seolah mereka tidak pernah berpisah.

Profil Mason Sr. mengingatkan saya pada paman Nathalie yang eksentrik. Boleh jadi sebagai orang dewasa dia bukan teladan, namun ketika orangtua Nathalie bercerai, dialah tempat bersandar kedua keponakan ciliknya. Dia mencintai mereka, begitu pula sebaliknya. Bersama Nathalie dan sang adik, paman yang konyol ini menjadi orang bertanggung jawab dan berbeda. Atau mungkin anak-anak yang mampu memunculkan sisi itu?

Bercerai atau tidak, membesarkan remaja mengandung tantangan tersendiri. Selagi Olivia bertumbuh dengan kuliah, pindah rumah, dan beradaptasi dengan pekerjaan, dia sadar tidak bisa memegang kontrol seratus persen akan cara berpikir dan pergaulan anak-anaknya. Buat saya, mengharukan sekali saat Olivia membaurkan anak-anak dengan mahasiswanya sehingga mereka tidak merasa “tertinggal”. Pernah pula Mason dibawa ke kelas ketika sakit dan Olivia harus masuk kuliah. Istilah psikologinya, Mason dan Samantha tampak resilien. Mereka tidak sulit berbaur dengan saudara tiri.

Momen-momen bersama sang ayah pun membuat saya terpekur. Tanpa memojokkan suami baru Olivia, Mason Sr tetap hadir sebagai ayah kandung yang sebaik mungkin untuk anak-anaknya. Dia tak suka jawaban singkat Samantha dan Mason. Katanya, “Ini aku, mengobrollah, ceritalah yang panjang.” Lalu Mason dan Samantha tertawa, berkilah bahwa pertanyaan ayah mereka sukar dijawab. Dengan sendirinya, kedua remaja ini tidak sukar pula menerima saat Mason Sr menikah lagi.

Mason Jr yang tidak banyak bicara bagi saya mewakili remaja pria pada umumnya. Ada sisi-sisi yang mirip keponakan saya sewaktu seumur dia, dorongannya untuk diterima di lingkungan, berusaha terus terang pada orangtua, dan tindakan-tindakannya yang khas ABG.

Sebelum menulis ulasan ini, saya sempat membaca artikel itu dan setuju sekali. Wabilhusus dengan poin ini,

Trust me when I tell you that they will learn about the positive and negative qualities of their other parent on their own. It is not your role to point out the shortcomings of their other parent.

Pendek kata, orangtua yang tidak sebentar-sebentar mendrama akan menghasilkan anak yang tidak gampang jadi drama juga. Itu bisa tercapai meski kondisi rumah tangganya tidak “ideal”.

 

Sumber: flixster Menonton film sepanjang 2 jam 45 menit sungguh menguji kesabaran, apalagi di tengah godaan demam film seri yang bikin ketagihan dan jatuh-jatuhnya jadi lama juga:D Tapi anehnya, belakangan ini film-film Ethan Hawke punya daya giur sendiri buat saya. Kepingin tahu apakah dia lagi-lagi jadi penulis, misalnya. Ternyata tidak. Dia jadi ayah yang sulit bertanggung jawab secara finansial terhadap anak-anak (mungkin itu akibatnya cerai) karena profesinya yang tidak prospektif yakni seniman musik. Uniknya, Boyhood tidak menampilkan Mason Sr ini selaku ayah yang lalai atau menimbulkan cibiran. Satu-dua kali ada perbedaan pendapat dengan Olivia (Patricia Arquette), sang mantan istri, namun lebih mirip pertentangan suami-istri biasa. "You don't want the bumpers. Life doesn't give you bumpers." Dengan mudah, saya larut dalam sudut pandang Mason Jr (Ellar Coltrane) yang berkembang selama 12 tahun untuk keperluan syuting film ini. Sering kali terbukti, anak-anak lebih tegar daripada dugaan orangtua ketika perceraian terjadi. Mereka masih menghargai upaya Olivia untuk memberikan kehidupan yang lebih baik, utamanya di rumah. Dalam proses itu, kesalahan tak terelakkan saat sang ibu keliru memilih pasangan dan lagi-lagi bercerai. Tapi Mason dan Samantha, sang kakak, tidak menyalahkannya. Tidak pula menyudutkan Mason Sr. Seolah mereka tidak pernah berpisah. Profil Mason Sr. mengingatkan saya pada paman Nathalie yang eksentrik. Boleh jadi sebagai orang dewasa dia bukan teladan, namun ketika orangtua Nathalie bercerai, dialah tempat bersandar kedua keponakan ciliknya. Dia mencintai mereka, begitu pula sebaliknya. Bersama Nathalie dan sang adik, paman yang konyol ini menjadi orang bertanggung jawab dan berbeda. Atau mungkin anak-anak yang mampu memunculkan sisi itu? Bercerai atau tidak, membesarkan remaja mengandung tantangan tersendiri. Selagi Olivia bertumbuh dengan kuliah, pindah rumah, dan beradaptasi dengan pekerjaan, dia sadar tidak bisa memegang kontrol seratus persen akan cara berpikir dan pergaulan anak-anaknya. Buat saya, mengharukan sekali saat Olivia membaurkan anak-anak dengan mahasiswanya sehingga mereka tidak merasa "tertinggal". Pernah pula Mason dibawa ke kelas ketika sakit dan Olivia harus masuk kuliah. Istilah psikologinya, Mason dan Samantha tampak resilien. Mereka tidak sulit berbaur dengan saudara tiri. Momen-momen bersama sang ayah pun membuat saya terpekur. Tanpa memojokkan suami baru Olivia, Mason Sr tetap hadir sebagai ayah kandung yang sebaik mungkin untuk anak-anaknya. Dia tak suka jawaban singkat Samantha dan Mason. Katanya, "Ini aku, mengobrollah, ceritalah yang panjang." Lalu Mason dan Samantha tertawa, berkilah bahwa pertanyaan ayah mereka sukar dijawab. Dengan sendirinya, kedua remaja ini tidak sukar pula menerima saat Mason Sr menikah lagi. Mason Jr yang tidak banyak bicara bagi saya mewakili remaja pria pada umumnya. Ada sisi-sisi yang mirip keponakan saya sewaktu seumur dia, dorongannya untuk diterima di lingkungan, berusaha terus terang pada orangtua, dan tindakan-tindakannya yang khas ABG. Sebelum menulis ulasan ini, saya sempat membaca artikel itu dan setuju sekali. Wabilhusus dengan poin ini, Trust me when I tell you that they will learn about the positive and negative qualities of their other parent on their own. It is not your role to point out the shortcomings of their other parent. Pendek kata, orangtua yang tidak sebentar-sebentar mendrama akan menghasilkan anak yang tidak…

Kesan Rinurbad

Cerita - 100%
Akting - 98%
Dialog - 91%

96%

Perlu ditonton

Untuk orangtua yang punya anak lelaki, orangtua remaja, keponakan lelaki. Banyak sekali pelajaran yang bisa diambil.

User Rating: 1.9 ( 3 votes)
96

Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

PREVIOUS ARTICLE

NEXT ARTICLE

Leave a Reply

  • (not be published)