Setiap kali mendengar kata ‘resolusi’, saya masih sulit tidak menghubungkannya dengan monitor:D

Inilah yang saya alami sepanjang tahun 2011:

1. Penurunan buku yang dibaca. Cukup signifikan, dari 280 tahun lalu menjadi 250 tahun ini, termasuk bahan pekerjaan. Alhamdulillah, target (Goodreads Challenge) sebanyak 200 judul terpenuhi. Di akhir tahun ini pula, saya merasakan kenikmatan luar biasa membaca tanpa pontang-panting. Benar-benar untuk bersantai dan kesenangan. Insya Allah, itulah yang akan dilakukan mulai tahun depan.

Niat: Goodreads Challenge tahun depan satu buku saja, tapi yang tebal.

2. Tahun lalu menerjemahkan 9 buku (termasuk seri pictorial book anak-anak), tahun ini enam buku saja sedangkan yang terbit lima. Salah satunya bukan kerjaan tahun ini, yakni Girl with Nine Wigs yang alhamdulillah sudah cetak ulang. Virgin Mary juga diterbitkan lagi dengan judul dan cover baru. Dua buku dari proyek tahun kemarin pun dicanangkan terbit akhir 2011, namun sepertinya masih ditunda karena satu dan lain hal terkait masalah teknis.

3. Empat buku suntingan berbahasa Indonesia terbit dan temanya beragam. Senang sekali karena 100 Masjid Terindah Indonesia termasuk bestseller di Gramedia Paris Van Java, Bandung:)

4. Dari enam terjemahan yang saya sunting tahun ini, dua di antaranya terbit. Sama-sama pengalaman mengesankan:D

5. Menerbitkan ‘bayi’ yang terperam empat tahun lamanya, novel thriller remaja Ketika Dia Kembali. Dua buku lainnya tergolong kompilasi.

6. Menambah wawasan dengan mengajar Workshop Penyuntingan Online Blogfam awal tahun ini juga. Mengajar online ada tekniknya tersendiri, butuh konsentrasi khusus, tantangan seru yang bikin deg-degan mengingat saya pensiun mengajar ‘di darat’ tahun 2002.

7. Pengalaman yang tak kalah menarik, menjadi salah satu kontributor penulisan Batikindonesia.com. Saya kerap termangu-mangu jika menghadapi bahan terjemahan yang ‘sangat wanita’ semisal berbau masakan, mode, rias wajah, dan sejenisnya. Secara tidak langsung, pekerjaan yang mengharuskan saya bolak-balik buku referensi khusus ini menjadi subsidi silang untuk belajar dan meningkatkan kualitas terjemahan.

8. Merintis usaha kecil-kecilan. Otomatis belajar dari nol lagi kendati menjual jasa bukan hal baru bagi kami, bahkan bisa menghidupkan pelan-pelan rental komputer dan pengetikan (meski skalanya tidak besar) yang kami tutup tahun 2004 lalu.

9. Merambah dunia IT yang saya kangeni, melalui penerjemahan. Setelah lama tak menekuninya, sungguh mengasyikkan:)

10. Masih terkait buku dan hobi membaca, tahun ini ada semacam pencapaian yakni membeli buku berbahasa Inggris baru. Upaya meningkatkan baca buku bahasa asing ini sedang dirintis berangsur-angsur, kendati saya masih mengutamakan beli buku impor second dengan pertimbangan biaya (terima kasih sebesar-besarnya, antara lain pada Halaman Moeka Books dan Buku Murmer yang mempermudah ini). Untuk membeli yang baru, saya masih amat selektif di samping urusan harga, juga diputuskan bila saya benar-benar ingin memiliki/mengoleksinya sedangkan kemungkinan buku itu diterjemahkan masih samar-samar.

Tahun depan yang tinggal beberapa hari lagi, saya memantapkan keputusan untuk mundur dari satu bidang. Prosesnya sudah berlangsung sekitar dua tahun terakhir ini secara bertahap, ternyata keinginan itu masih ada. Bahkan bertambah kuat, karena saya tidak menemukan kepuasan batin lagi di sana. Saya hendak berfokus pada kegiatan-kegiatan yang saya cintai, insya Allah.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)