Mungkin sudah bawaan, meski sadar akan sesuatu yang kurang baik, saya tetap saja “memeliharanya”. Menyitir kalimat dalam buku Skripshit karya Alitt Susanto, “Menghapus perasaan itu susah, tapi yang lebih susah lagi menghapus kebiasaan.” Dan buku-buku antik alias jadul yang kami peroleh dari Halaman Moeka Books memperkencang hobi kami akan romantisme masa lalu.

Apa pasal? Dik Asisten, yang menerima paket pesanan tersebut, terheran-heran sekaligus takjub akan buku yang kami beli. Saya ‘tembak langsung’ saja ketika membuka ensiklopedia Time Life, “Tahun 1980, kamu belum lahir kan?” Ia mengiyakan. Sambil memperlihatkan National Geographic yang masih amat mulus kondisinya, saya dan suami bergantian menceritakan [dengan penuh kemenangan] letusan gunung Galunggung sekitar masa SD kami. Juga gerhana matahari total.

“Seru lho, pasti kamu gak kebayang kan? Seharian gelaaap… nggak boleh lihat langsung, katanya bisa buta.”

Saya perlihatkan juga beberapa Album Cerita Ternama. “Ini harganya dua ratus perak, zaman sekarang mana ada? Dulu, 25 ribu bisa beli sepeda. Uang 2500 bisa beli sepatu.”

Dik Asisten manggut-manggut sambil asyik membukai buku, peta yang tersisip, disertai penjelasan setiap kali bertanya. Mungkin kami terkesan “sombong” karena lahir jauh lebih dulu, meski pada dasarnya saya dan suami berprinsip tak perlu malu menjadi tua atau dianggap tua. Ini barangkali siklus berulang, “jurang” antargenerasi sebagaimana pernah saya baca di komik Mafalda. Sewaktu muda kami sebal dikritik yang lebih tua, tapi di usia senja tetap cerewet mengatai yang muda. “Dasar anak sekarang, dulu nggak ada tuh bla bla bla…”

Ketika Dik Asisten bertanya mengapa kami membeli buku seken, jawaban saya, “Ramah lingkungan.” Kemudian mengalirlah lagi tanya-jawab begini, begitu, dan seterusnya.

Belok sedikit, sewaktu membaca Hurufontipografi, saya tenggelam dalam uraian sejarah dan teknik yang mengingatkan pada bahan tes terjemahan di sebuah penerbit terkemuka 2 tahun silam. Sungguh, buku adalah investasi berguna sekaligus harta produktif bagi kami:)


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

PREVIOUS ARTICLE

Leave a Reply

  • (not be published)