Tidak jarang terjemahan terlewat diartikan. Bisa berupa kata, anak kalimat, kalimat utuh, bahkan beberapa kalimat sampai satu alinea.

Menemukannya termasuk tugas editor, yang berarti menerjemahkan ulang atau meminta penerjemah mengerjakannya kemudian (dengan segera dalam proses menyunting). Apabila penyunting dikejar waktu dan “kebetulan” menguasai bahasa/topik tersebut, penyuntinglah yang menambal terjemahannya.

Proses penambalan ini melelahkan apabila bukunya sangat tebal, alhamdulillah sejauh ini saya belum pernah mengalami (baca: “hanya” di buku-buku berketebalan sedang). Tidak jarang “ranjau” berupa lubang-lubang itu ditemukan setelah beberapa bab atau di tengah sehingga penyunting harus kembali mengecek dari awal.

Jadi bagaimana mengetahui bahwa terjemahannya tidak lengkap? Penyunting sangat berpengalaman mengandalkan insting, apalagi jika pernah mengalami kasus serupa berkali-kali dan/atau sudah membaca buku tersebut. Tapi teknik paling “jitu” hanyalah membaca kalimat per kalimat dengan konsentrasi penuh begitu timbul kecurigaan. Biasanya karena kalimat terasa janggal, paragraf seperti belum selesai, atau kalimat satu dengan lainnya seperti “lompat”.

Memegang buku asli jelas mutlak hukumnya. Dengan lirikan sekilas akan terlihat jika panjang alinea asli tidak sebanding dengan hasil terjemahannya.

Mengapa bisa terjadi? Saya pribadi enggan mencari tahu, karena satu dan lain hal. Paling-paling jika penerjemahnya saya kenal sangat baik, ada huruf/spasi melekat atau satu-dua kalimat terlewat, saya bertanya, “Pakai netbook?” Keyboard netbook memang berimpitan dan sulit untuk jari orang Indonesia pada umumnya (entah di luar sana), mirip ponsel layar sentuh. Kadang jika sempat, saya menanyakan kalau-kalau kacamata sang penerjemah perlu diganti. Tapi sebatas itu saja.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)