IMG_20130513_151144

Saya menemukan catatan lama ketika menyunting kumpulan cerita dari blog yang dihimpun menjadi semacam memoar beberapa tahun silam.

[sws_yellow_box box_size=”100″] Yang dilakukan:

1. Mengubah judul beberapa tulisan

2. Menyeragamkan istilah dan kosakata supaya konsisten, misalnya kata ‘salat’.

3. Mengoreksi dan membubuhkan tanda baca.

4. Mengoreksi ejaan, termasuk kosakata bahasa Prancis.

5. Meringkas paragraf yang mengandung banyak pengulangan frasa dan kalimat. Sering kali paragraf awal dipangkas supaya cerita lebih to the point.

6. Mengklasifikasi tulisan sesuai topik.

7. Memiringkan istilah asing dan kata-kata non baku.

8. Mengembalikan istilah yang lebih pas jika tidak diterjemahkan, seperti arrondissement. 9. Menghilangkan atau mengganti frasa dan kalimat yang sama dengan buku sebelumnya.

10. Mengganti atau menambahkan kalimat penutup pada cerita yang menggantung.

11. Mengoreksi kesalahan logika. Misalnya terdapat kalimat dengan tegar lelaki itu meneteskan airmata.

12. Menghilangkan beberapa komentar blogger atau merangkumnya, supaya nuansa buku lebih terasa. Bukan isi blog yang dipindahkan ke buku.

13. Kalimat dan dialog terakhir di naskah asli mengenai opera dihilangkan, sebab dapat menimbulkan kesan bahwa penulis dan suaminya ‘berpamrih’ memberikan tiket opera kepada orangtua dahulu.

14. Cerita mengenai masjid dan mukena digabungkan karena banyak mengandung hal yang sama. Cerita mengenai angkutan umum pun demikian.

15. Mengubah bahasa cakapan menjadi gaya bahasa tertulis. [/sws_yellow_box]


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

PREVIOUS ARTICLE

NEXT ARTICLE

Leave a Reply

  • (not be published)