Foto saya dalam kuis Aku dan Mizan

Tidak banyak yang saya perhatikan, hanya dua kuis terakhir yang masih tayang dan salah satunya bahkan sudah diumumkan. Yang pertama kuis #AkudanMizan yang rutin diadakan seminggu sekali tiap hari Jumat, dan kedua Follower of the Year 2011 Penerbit Gramedia (akun @Gramedia). Saya tertarik mengamatinya karena kedua kuis ini mensyaratkan foto. Mizan meminta peserta menunjukkan foto buku favorit, sedangkan Gramedia mengharuskan foto buku terbitannya sepanjang tahun ini. Tidak termasuk keluaran imprint, semisal Glitzy  dan Oak Tree.

Dengan klik hashtag, akan tampak mention peserta berikut aneka fotonya. Saya hanya iseng-iseng melihat sebagian untuk mengetahui buku-buku yang diminati pembaca dari berbagai kalangan usia. Tidak terlalu berdasar dan bisa diandalkan, memang, karena mungkin saja banyak konsumen lain yang tidak punya akun Twitter atau tidak ikut kuis. Sempat bertanya-tanya juga, memang, mengapa tidak ada penggemar Harlequin, yang konon bila sekali belanja sanggup memborong dan benar-benar pembaca loyal genre tersebut, yang turut serta. Barangkali karena rentang waktu kuis yang relatif pendek dan terkendala posisi buku yang ‘berceceran’, misalnya dipinjam.

Sudah barang tentu, buku-buku yang tercatat laris sesuai informasi di web Gramedia bermunculan. Sebut saja buku Merry Riana yang fenomenal itu dan novel Negeri 5 Menara beserta lanjutannya, Ranah 3 Warna. Beberapa foto menampakkan versi Inggris N5M juga. Ini pertanda buku-buku inspiratif dan diangkat dari kisah nyata masih amat diminati. Mungkin juga dengan embel-embel ‘akan difilmkan’.

Lainnya, yang saya temukan adalah penggemar seri fantasi atau karya pengarang tertentu, baik lokal maupun mancanegara. Di antaranya Esti Kinasih, AliaZalea, Primadonna Angela, Luna Torashyngu, dan Andrei Aksana untuk penulis Indonesia. Buku traveling, romance, dan chicklit cukup sering tampak. Di beberapa foto, saya juga mendapati Please Look After Mom yang sukses menjebol bendungan air mata banyak pembaca. Tidak lupa genre yang masih bercokol hingga sekarang, fantasi.

Untuk Aku dan Mizan, bukunya kebanyakan hanya satu dan lebih beragam lagi. Ada yang islami (alhamdulillah ada yang memfavoritkan Amazing Baitullah), kisah nyata, buku-buku remaja (PinkBerry misalnya) dan buku anak. Bisa dikatakan buku lokal dan terjemahannya berimbang.

Fantasi masih menonjol? Jelas. Saya mendapati penggemar I Am Number Four, rata-rata remaja pria. Penggemar karya-karya Rick Riordan pun tidak sedikit.

Kesimpulannya:

  1. Penulis Indonesia masih berpeluang (terserah pada masing-masing apakah hendak mengikuti arus pasar yang menaikdaunkan novel inspiratif).
  2. Masih perlu bertanya, mengapa fantasi bertebaran di pasaran?

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)