An honest man has nothing to fear, so I am trying hard not to be afraid.

“Tumben kamu nonton Leonardo,” canda Mas Agus, yang tahu persis saya tidak begitu menyukai aktor satu ini. Saya berdalih, murni mengikuti naluri ketika memilih film yang menurut dia sudah pernah ditayangkan di TV dan ditontonnya sepotong-sepotong ini. Biasanya yang berdasarkan kisah nyata, juga diangkat dari buku, ceritanya bermutu. Belum lagi ditambah taburan bintang dalam film arahan Steven Spielberg ini.

Ada Christopher Walken. Mayoritas perannya antagonis, namun saya suka sekali. Ia berperan sebagai ayah Frank Abagnale Jr (Leonardo diCaprio). Kedekatan hubungan mereka yang mengharukan, drama yang menggigit, sisi-sisi keluarga yang menjadi titik perkembangan pribadi Frank adalah salah satu poin istimewa Catch Me If You Can. Di sini tergambar bahwa perpisahan orangtua bisa sangat memukul, terutama ketika anak disuruh memilih ikut siapa.

Ada juga Martin Sheen. Sungguh khas, ia menjadi ayah yang protektif. Tapi toh bisa tertipu juga oleh perilaku sok romantis.

Ada Tom Hanks, tentu. Agen FBI yang menjadikan urusannya dengan Frank yang bengal dan berakal bulus ini seperti kucing mengejar tikus. Lebih-lebih Frank terbiasa dengan kalimat-kalimat ayahnya yang memuji kelihaian tikus. Saya sempat bertanya-tanya bagaimana Tom Hanks tahan tidak tersenyum selama hampir sepanjang film.

Ada Amy Adams. Memerankan seorang perawat lugu, cocok sekali dengan sorot matanya yang polos.

Saya geleng-geleng sambil tertawa menyaksikan polah remaja ini yang petantang-petenteng menjadi pemalsu, dengan santai mengaku pada ayahnya sudah bekerja sebagai pilot, kemudian dokter dan pengacara. Dalam segi ini, Frank dan ayahnya begitu dekat mirip karakter ayah-anak dalam film Blow.

Tak pelak, kehadiran emosi yang terjaga sungguh mengesankan. Kami benar-benar menyukainya sampai akhir.

Sayang koneksi internet sedang terganggu, jadi saya belum bisa mengintip halaman-halaman awal buku yang dijadikan film ini di Amazon.

Seperti biasa, gambar dipinjam dari flixster

Skor: 5/5

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)